SIT CORDOVA

Menciptakan Pembelajaran yang Menyenangkan

Menciptakan Pembelajaran yang Menyenangkan

  1. Pembelajaran Menyenangkan

Secara bahasa pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instruction (Inggris). Kata pembelajaran itu sendiri memiliki variasi pemaknaan. Meskipun demikian dari variasi pemaknaan kata pembelajaran kebanyakan menunjuk pada upaya untuk membelajarkan siswa. Saylor, et al (1981:257), menyatakan “Pembelajaran itu adanya dua hal yaitu adanya aktivitas individu siswa dan adanya lingkungan yang dikondisikan secara khusus untuk mengarahkan aktivitas siswa. Dimana tujuan dari aktivitas ini yaitu agar terjadi belajar pada siswa. Lebih jelas lagi Gagne, et al. menyatakan bahwa pembelajaran adalah serangkaian aktivitas untuk membantu mempermudah seseorang belajar, sehingga terjadi belajar secara optimal. Dalam proses pembelajaran merujuk pada segala peristiwa (events) yang bisa memberikan pengaruh langsung terjadinya belajar pada manusia.

Dengan demikian, dalam konteks pembelajaran di sekolah guru adalah salah satunya, bukan satu-satunya.

Selain daripada itu, Rmizowski (1981:4) menjelaskan bahwa pembelajaran itu memiliki dua cirri yaitu aktivitas yang berorientasi pada tujuan yang pesifik serta adanya sumber dan aktivitas belajar yang telah direncanakan sebelumnnya. Tujuan, sumber, dan aktivitas belajar yang ditetapkan sebelum proses belajar mengajar terjadi inilah yang terpenting. Apakah tujuan itu ditetapkan oleh guru atau pihak luar lainnya, apakah kegiatan itu menggunakan variasi yang unik atau hanya satu metode dan apakah metode itu diputuskan oleh guru atau siswa itu masalah lain.

Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dapat dinikmati siswa dengan nyaman dan mengasyikan. Perasaan mengasyikan mengandung unsur inner motivation, yaitu dorongan keingintahuan yang disertai upaya mencari tahu sesuatu.

Menurut Suprijono (2009) pembelajaran menyenangkan adalah pembelajaran dengan Socio emotional climate positif. Peserta didik merasa bahwa proses belajar yang dialaminya bukan sebuah derita yang mendera dirinya, melainkan berkah yang harus disukurinya. Belajar bukanlah tekanan jiwa pada dirinya, namun merupakan panggilan jiwa yang harus ditunaikannya.

Pembelajaran menyenangkan bukan berarti selalu diselingi dengan lelucon, banyak bernyanyi atau tepuka tangan yang meriah, tetapi pembelajaran yang menyenangkan itu dapat dikatakan apabila di dalamnya terdapat suasana yang rileks, bebas dari tekanan, aman dan menarik, bangkitnya minat belajar, adanya keterlibatan penuh, perhatian peserta didik tercurah, lingkungan belajar yang menarik, bersemangat, perasaan gembira, konsentrasi tinggi. Sementara sebaliknya pembelajaran menjadi tidak menyenangkan apabila suasana tertekan, perasaan terancam, perasaan menakutkan, merasa tidak berdaya, tidak bersemangat, malas/tidak berminat, jenuh/bosan, suasana pembelajaran monoton, pembelajaran tidak menarik siswa. (Dra. Indrawati, M.Pd dan Drs. Wawan Setiawan, 2009, hlm. 24)

  1. Menciptakan Pembelajaran yang Menyenangkan

Untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, guru dapat melakukn beberapa hal di bawah ini :

  1. Menyapa siswa dengan ramah dan bersemangat

Menciptakan awal yang berkesan sangat penting karena akan mempengaruhi proses selanjutnya. Jika awalnya baik, menarik, dan memikat, maka proses pembelajaran akan lebih hidup dan menggairahkan.

Dengan hal tersebut, di setiap awal pertemuan pembelajaran guru harus memberikan sapaan yang membuat siswa bersemangat misalnya “Selamat pagi anak-anak, apa kabar hari ini? Sudah pada sarapan semuanya? Haayoo, yang lemas jawabnya berarti belum sarapan ya ?” dengan pertanyaan seperti itu atau pertanyaan yang lain sebagainya berlaku positif dapat membangkitkan semangat siswa untuk dapat memulai pelajarannya di hari itu. Dan dengan perilaku guru yang ramah, siswa merasa lebih dekat dengan gurunya dan dapat membuat siswa lebih aktif.

  1. Menciptakan Suasana Rileks

Menciptakan suasana rileks dengan menciptakan lingkungan yang nyaman. Hal ini dapat dilakukan seperi menata ruang kelas dibentuk se cocok mungkin, mengatur ventilasi dan tata cahaya. Selain itu hal yang berkenaan siswa jika ada kesalahan ketika menjawab sebuah pertanyaan dari guru jangan di tegur atau di marahi tapi guru hanya dapat menjawab “tidak apa-apa, namanya juga belajar.” Dengan demikian siswa tidak akan takut untuk mencoba menjawabnya lagi dilain waktu.

  1. Memotivasi Siswa

Pembelajaran tidak akan bermakna jika para siswa tidak termotivasi untuk belajar. Maka dari itu perlunya dorongan untuk membangkitkan siswa. Guru wajib berupaya sekeras mungkin untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Secara khusus guru perlu melakukan berbagai upaya secara nyata untuk meningkatkan motivasi belajar siswanya, misalnya berupa stimulus model pembelajaran yang menarik memungkinkan respon yang baik dari siswa. Respon yang baik tersebut akan membuat siswa menjadi terdorong untuk mengikuti proses pembelajaran dengan penuh perhatian dan antusias tanpa mengikuti pembelajaran dengan terpaksa atau asal-asalan.

  1. Menggunakan Ice Breaking

Tujuan ice breaking adalah pencair suasana agar dalam kondisi yang optimal. Semua guru tentunya pernah mengalami situasi belajar yang beku dan membosankan. Dengan adanya ice breaking dapat dilakukan pada awal jam masuk atau saat jam terakhir ketika siswa sudah merasakan kejenuhan.

Ice breaking dapat mengembalikan konsentrasi siswa yang sudah tidak fokus. Ice breaking dapat dilakukan kurang lebih 15 menit. Ice breaking bisa berupa yel-yel, menyanyi, gerak dan gerak lagu, gerak anggota badan dan games.

  1. Menggunakan Metode yang Bervariatif

Metode adalah cara atau teknik untuk mencapai tujuan khusus tertentu. Karena dalam pembelajaran itu biasanya terdapat lebih dari satu metode yang digunakan. Meskipun pada dasarnya satu metode bisa digunakan untuk mencapai lebih dari satu tujuan, akan tetapi untuk pertimbangan variasi dan motivasi belajar siswa sebaiknya pembelajaran menggunakan metode yang bervariasi.

Dengan metode yang bervariatif guru tidak hanya terpaku menggunakan satu metode saja tetapi dapat melakukan beberapa metode seperti metode ceramah, selain itu metode Tanya jawab, metode diskusi, metode latihan, metode demonstrasi dan eksperimen, metode karyawisata, metode kerja kelompok. Dari satu metode guru dapat melakukan dengan hal yang berbeda dan hrus lebih kreatif lagi.

  1. Pemilihan Media Pembelajaran

Menentukan jenis media pembelajaran harus diperhatikan dengan benar, yang akan guru buat itu apakah semacam alat bantu guru dalam mengajar (presentasi) ke siswa atau kita arahkan untuk bisa dibawa pulang siswa untuk belajar mandiri di rumah atau sekolah.­­­

 

Sumber : http://linanurley.blogspot.com/2015/06/artikel-menciptakan-pembelajaran-yang.html

Definisi/Konsep Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Definisi/Konsep Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Definisi/Konsep Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

Model pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).

KELEBIHAN PROBLEM BASED LEARNING (MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH)

  • Dengan PBL akan terjadi pembelajaran  bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan
  • Dalam situasi PBL, peserta     didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan
  • PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

Langkah-langkah Operasional  dalam  Proses Pembelajaran

Konsep Dasar (Basic Concept)

Guru atau fasilitator  memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran

Langkah-langkah Operasional  dalam  Proses Pembelajaran

a. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem)
Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan peserta didik melakukan berbagai kegiatan brainstorming dan semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat

b. Pembelajaran Mandiri (Self Learning)
Peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan.

c. Tahap investigasi (investigation)
Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami.

d. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge)
Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya.


5. Penilaian (Assessment)

Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan.Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian.

Contoh Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)

Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian peserta didik diminta mencatat masalah-masalah yang muncul.
Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka.

Contoh Penerapan
Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat.

Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar diluar kelas. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.

SISTEM PENILAIAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING

Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan.

Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik softwarehardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.

SISTEM PENILAIAN

Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment.

Self-assessment. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar.

Peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya.

sumber : http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2014/06/model-pembelajaran-berbasis-masalah.html

Masalah – Masalah Dalam Belajar

Masalah – Masalah Dalam Belajar

Tugas utama seorang guru adalah membelajarkan siswa. Ini berarti bahwa bila guru bertindak mengajar, maka diharapkan siswa berajar atau belajar. Dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah ditemukan hal-hal berikut. Guru telah mengajar dengan baik. Ada belajar siswa giat. Ada siswa pura-pura belajar. Ada siswa belajar setengah hati.
Bahkan ada siswa yang tidak belajar. Guru bingung menghadapi keadaan siswa. Guru tersebut berkonsultasi dengan konselor sekolah. Kedua petugas pendidik tersebut menemukan adanya masalah-masalah yang dialami siswa. Ada masalah yang dapat dipecahkan oleh konselor sekolah. Ada pula masalah yang harus dikonsultasikan dengan ahli psikologi.
Bahkan guru memahami bahwa kondisi lingkungan siswa juga dapat menjadi sumber timbulnya masalah-masalah belajar.

Maka seorang guru harus bisa:

  1. Mengidentifikasi masalah pada pembelajaran
  2. ‘menentukan masalah ekstern atau masalah intern pada pembelajaran
  3. Menganilisis sebab-sebab yang menimbulakan masalah-masalah pembelajaran
  4. Menemukan alternatif pemecahan-pemecahanpembelajaran

Guru professional berusaha mendorong siswa agar belajar secara berhasil. Ia menemukan bahwa ada bermacam-macam hal yang menyebabkan siswa belajar. Adasiswa yang tidak belajarkarena dimarahi orang tua. Ada siswa yang enggan belajar karena pindah temoat tinggal. Ada siswa yang sukar memusatkan perhatian waktu guru mengajar topic tertentu. Bermacam-macam keadaan siswa tersebut menggambarkan bahwa pengetahuan tentang masalah-masalah belajar merupakan hal yang sangat penting bagi guru dan calon guru.

 

Sumber : https://dwipujihastuti.wordpress.com/2015/06/24/masalah-masalah-dalam-belajar/

Sejarah Qurban Sama Usianya Dengan Sejarah Manusia

Sejarah Qurban Sama Usianya Dengan Sejarah Manusia

Oleh H Romli Sian Mair Lc,MA, ketua umum yayasan Harapan Umat Pondok Jati 

Sejarah Qurban Sama Usianya Dengan Sejarah Manusia

Kisah-kisah didalam Al-qur’an benar-benar terjadi (alhaq). Hari ini Allah tegaskan dalam (Qs.Ali Imran:62) :

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ ۚ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya : “Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Begitu pula kisah yang terdapat dalam (Qs.Al Maidah:27). Pada ayat tersebut Allah mengisahkan adanya seorang anak Nabi Adam, Qobil, dia merasa iri dan dengki kepada saudaranya Habil, lantaran Habil mendapat nikmat dari Allah SWT, lagi pula qurban-nya diterima yang berujung pada diizinkannya ia menikah dengan wanita kembaran Qobil, Yang bernama Wadhi’ah, sesuai dengan anjuran ayah mereka (Adam) yakni Qobil harus rela menikah dengan kembaran Habil. Dalam kisah tersebut berujung pada terjadinya pembunuhan pertama kali di dunia. Qobil membunuh Habil.

Mengapa qurban Habil diterima Allah?

Ketika Nabi Adam menyuruh berqurban, maka Qobil sebagai petani (shohibu zar’in) kakak Habil memilih hasil tani  yang buruk, sedangkan habil sebagai seorang peternak (shohibu dhor’in) memilih ternaknya yang gemuk dan istimewa sebagai hewan qurban, maka Allah SWT menurunkan api dan api tersebut memakan qurban Habil dan membiarkan qurban Qobil. Saat itu Qabil mengancam membunuh Habil dan Habil menyatakan bahwa qurban yang diterima adalah qurban yang di berikan oleh orang yang bertaqwa.  Demikian menurut riwayat Ibnu Jarir. Dalam riwayat tersebut di katakan bahwa: Ayah mereka (Nabi Adam.as) sedang pergi ke Mekah menuruti perintah Allah mengunjungi Baitullah.

Kisah selengkapnya terdapat dalam (Qs.Al Maidah:27-31)

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لأقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (٢٧) لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لأقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ (٢٨) إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ (٢٩) فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٣٠) فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الأرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

Artinya : “Ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam[1], ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa (27), Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu.

Aku takut kepada Allah Tuhan seluruh alam (28), Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka dan itulah balasan bagi orang yang zalim (29), Maka hawa nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya maka jadilah dia termasuk orang yang rugi (30), Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya Qabil berkata, “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal”

Qurban dalam kisah nabi Ibrahim dan Ismail Alaihiwassalam

Nabi Ibrahim as merindukan seorang anak yang sholeh maka beliaupun berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِين

Artinya :” Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh:. (Qs Ash-shoffat:100)

Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim as. Saat putranya (ismail) mencapai usia yang memungkinkan sanggup diajak berusaha maka Allah swt menyuruh beliau menyembelihnya lewat mimpi disuatu malam.

Dimintanyalah putranya untuk berpikir dan merespon. Luar biasa, putranya malah mendorong ayahnya agar melaksanakan perintah tersebut dan menyakinkan ayahnya bahwa dia insyaallah mampu bersabar. Ismail pun pasrah dan berserah diri untuk disembelih, lalu ada suara yang menyeru Ibrahim sebagai pengakuan Allah bahwa Ibrahim benar-benar telah menyakini mimpinya. Maka Allah pun menebus anak tersebut (Ismail) dengan sembelihan yang besar.

Diriwayatkan dari Said bin Zubair ra: Domba (kibasy) yang disembelih Ibrahim as (sebagai ganti Ismail)  adalah domba yang dijadikan qurban oleh Habil putra nabi Adam as.

Kisah selengkapnya dapat dibaca dalam (Qs Ash-Shoffat: 100-107)

Ibadah qurban dalam Islam

Hukum qurban :

Mayoritas ulama (jumhur ulama) berpendapat bahwa hukum qurban itu adalah SUNNAH MUAKKADAH (sunnah yang dianjurkan) hanya Imam Hanafi yang berpendapat bahwa qurban adalah Wajib.

Didalam Al-qur’an ayat-ayat yang berbicara tentang qurban sebagai berikut :

  1. Surat Al-Kautsar ayat 1-2
  2. Keihklasan dan ketaqwaanlah yang menjadi penyebab tercapainya ridho Allah oleh orang yang berkurban : Qs Al-Hajj:37
  3. Berikanlah daging qurban kepada orang yang meminta maupun kepada orang yang tidak minta-minta (Al-Qoni’)

Rasulullah mengingatkan kepada orang yang berkemampuan tapi enggan berquran agar jangan mendekati mushollahnya

Qurban nadzar

Orang yang berjanji mau berqurban bila keinginannya dikabulkan berarti ia telah bernadzar untuk berqurban, maka hukumnya berubah menjadi wajib. Dengan demikian si pengurban tidak diperbolehkan makan daging qurban nadzarnya.

Faedah menyebelih hewan qurban

Berqurban merupakan tanda syukur kepada Allah Swt atas limpahan nikmatnya kepada hambanya. Berqurban berarti menghidupkan ajaran nabi Ibrahim as dengan mengingat kesabarnnya dan putranya Ismail.

Ibnu Qoyyim berkata :”Penyebelihan hewan qurban yang dilakukan pada waktunya itu lebih mulia dan lebih afdol dari pada bersedekah dengan uang seharga hewan yang disembelih tersebut”

 

Kepada Segenap Wali murid dan Keluarga besar SIT Cordova, saya mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1441 H & SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH QURBAN,SEMOGA ALLAH SWT MENERIMA IBADAH KITA. AAMIIN.

 

 

 

 

 

PROBLEMATIKA DUNIA PENDIDIKAN PADA MASA PANDEMI COVID 19

PROBLEMATIKA DUNIA PENDIDIKAN PADA MASA PANDEMI COVID 19

Oleh : Abas, M.Pd,.M.Si
Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan / Pembina Yayasan Harapan Umat

 

          Saat ini Dunia pendidikan sedang mempunyai berbagai tantangan dalam menghadapi wabah pandemi covid 19 yang melanda Indonesia wabilkhusus di Provinsi Banten sekitar Tangerang Raya . Sosial distance merupakan pilihan berat bagi setiap daerah dalam menerapkan pencegahan penyebaran virus ini yang kita kenal adalah kebijakan pemberlakuan PSBB , karena kebijakan ini berdampak negatif setiap aspek kehidupan. Pembatasan interaksi social masyarakat dapat memnghambat laju pertumbuhan dan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan namun tidak ada pilihan lain selain pembatasan social , karena dengan cara inilah yang paling efektif untuk mengurangi resiko penularan covid 19. Kebijakan social distancing yang di terapkan oleh pemerintah berakibat fatal karena roda kehidupan manusia bidang ekonomi tidak berjalan secara normal bahkan sangat menghambat perekonomian masyarakat dan banyak masyarakat yang hilang pekerjaan dan meningkat data kemiskinan di  Indonesia. Tetapi kebijakan physical distancing untuk memutus penyebaran wabah , memaksa perubahan dari pendidikan formal di bangku sekolah menjadi belajar dari rumah, dengan sistem online dalam skala nasional, bahkan ujian nasional tahun ini terpaksa ditiadakan.

Yang paling berpengaruh dimasa covid 19 ini di bidang pendidikan . Dari hari ke hari kasus covid 19 terus bertambah sehingga kepala daerah memutuskan untuk meliburkan kegiatan pembelajaran mulai jenjang PAUD hingga jenjang sekolah menengah atau sederajat.  Sistem proses pembelajaran yang awalnya tatap muka berubah menjadi   pembelajaran daring yang di lakukan masing masing sekolah. Ini menghilangkan semangat dan marwah belajar serta menghilangkan transfer of value dari guru ke peserta didik   di sekolah. Namun, kondisi inilah yang meminta pemerintah untuk mengubah sistem pendidikan.     Peralihan pembelajaran daring memaksa berbagai pihak untuk mengikuti alur yang sekiranya dapat di tempuh oleh sekolah , agar pembelajaran dapat berlangsung baik dan lancar dengan memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran dalam jaringan. Penggunaan teknologi ini juga sebenarnya bukan tanpa alasan banyak faktor yang menghambat pelaksanaan efektifitas pembelajaran daring ini misalnya penggunaaan teknologi yang masih rendah, keterbatasan sarana dan prasarana, jaringan internet kurang memadai, serta biaya penunjang teknologi.   Kerja keras para tenaga pengajar di sekolah atau di kampus selama ini sungguh patut di apresiasi . Di tengah pembatasan social yang diperpanjang lagi oleh pemerintah kabupaten/ kota akibat wabah pandemic covid  19, kita harus semangat mengejar dan mengajar ilmu pengetahuan. Hampir tidak menyangka wajah dunia pendidikan akan berubah darastis akibat pandemic ciovid 19.  Pendidikan merupakan kunci  menjadi manusia manusia yang unggul dan berkualitas dan menentukan kemana bangsa ini akan menyongsong masa depannya.

Problematika dalam dunia pendidikan di masa covid 19 adalah

  1. Kegiatan proses pembelajaran di masa pandemic covid 19 mengalami perubahan yang cukup besar dan harus cepat beradaptasi.
  2. Pelaksanaan pendidikan harus bergantung pada koneksi internet.
  3. Guru mengalami kesulitan dalam mengajar yang harus menyesuaikan denagn penguasaan teknologi.
  4. Tekendala oleh biaya internet yang cukup besar.
  5. Siswa tidak semua memiliki smartphone dan computer yang terkoneksi dengan internet.

 

Pentingnya Pendidikan Untuk Masa Depan

Pentingnya Pendidikan Untuk Masa Depan

Dalam banyak kesempatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, sering mengungkapkan bahwa pendidikan seharusnya tidak membelenggu atau membebani siswa, tetapi mencerahkan dan menyenangkan. Anies berjanji akan mengupayakan pembelajaran yang lebih berkualitas dan menyenangkan.
Pendidikan yang membebani dan membosankan, hemat penulis, ikut menjadi penyebab mengapa pendidikan kita belum mencapai hasil menggembirakan, bahkan gagal. Dikatakan gagal karena pendidikan kita tak kunjung mendekat pada tujuan pendidikan nasional seperti diamanatkan UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003, juga gagal karena sepi prestasi.
Kemampuan anak-anak kita dalam bidang matematika dan sains yang menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan tergolong rendah, jauh dari yang diharapkan. Bahkan merupakan yang terendah di antara negara-negara ASEAN.
Seperti umum diketahui, hasil terbaru TIMSS (Trend in Mathematics and Science Studies) 2011, Indonesia berada di peringkat 38 dari 42 negara peserta. Singapura berada di peringkat ke-2 dan Malaysia ke-26. Hasil PISA (The Programme for International Student Assesment) 2012 menempatkan Indonesia hampir di posisi juru kunci, peringkat 64 dari 65 negara peserta.
Konsep dan kreativitas guru
Pengembangan pendidikan yang menyenangkan itu, hemat penulis, terkait dengan 2 hal pokok: 1) konsep dan 2) implementasi yang menuntut kompetensi dan kreativitas guru.
Soal pertama, konsep, perlu dirumuskan secara jelas agar tidak terjadi mispersepsi. Konon ada guru atau wali murid yang memahami `pendidikan yang menyenangkan’ itu secara terpisah, yakni pendidikan dan lalu bersenang-senang. Ada pula yang menekankan senang-senangnya ketimbang pendidikannya.Ini tentu keliru! Menurut Scott D Richman, kesenangan (dalam fun teaching) itu bukan tujuan pada dirinya sendiri, melainkan agar murid bisa menikmati pendidikan sehingga mendongkrak prestasi belajar mereka (Successful Teaching, 2013: 83). Di kalangan pakar pendidikan, model atau strategi pembelajaran yang menekankan partisipasi dan keaktifan siswa sudah banyak dikenal, mulai dari konsep active learning dari Melvin Silberman, guru besar Tempel University yang kesohor dengan bukunya, Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject (1996) dan 101 Ways to Make Training Active (2011), hingga Quantum Teaching dari Bobby DePorter (2010).

Model pembelajaran Quantum Teaching (QT) diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Georgi Lazanop (Bulgaria) dan dikembangkan lebih lanjut oleh muridnya, Bobbi de Porter (Amerika), penulis buku best seller, Quantum Teaching. Konsep ini diujicobakan di Super Camp, lembaga kursus yang didirikan dan dikembangkan oleh Bobbi. Hasilnya memang menggembirakan.

Strategi ini berhasil menaikkan motivasi 68%, prestasi belajar 73%, percaya diri 81%, harga diri 84% dan keterampilan 98 %. (Bobby DePorter, 2010).
Di Indonesia, konsep active learning ataupun quantum teaching juga sudah cukup dikenal, dengan terjemahan yang beragam, mulai dari konsep cara belajar siswa aktif (CBSA), pendidikan aktif kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM), hingga yang terbaru konsep pendidikan aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan (PAIKEM).
Namun, sejauh mana guru guru kita memahami konsepkonsep pembelajaran yang menekankan keaktifan dan kreativitas dari siswa ini, dan sejauh mana mereka mengim plementasikan dalam proses pembelajaran, sulit menjawabnya. Tanpa kemampuan dan kreativitas yang memadai, strategi pengajaran baru yang diwajibkan tidak akan pernah berjalan. Karena sebagaimana biasanya, para guru akan tetap melanjutkan yang lama meski dengan merek baru.

Soal kedua, ialah soal implementasi. Seperti telah disinggung di atas, soal kedua ini terkait erat dengan kemampuan dan kreativitas guru. Agar kreatif dan sukses dalam melaksanakan tugas pembelajaran, para guru mesti memahami dengan baik 4 prinsip sukses pembelajaran, successful teaching, seperti diusulkan Scott D Richman di bawah ini.
Pertama, remember they are just kids, sadari mereka (peserta didik) itu hanya lah anak-anak. Ba nyak guru lupa bahwa yang dihadapi itu hanyalah anak anak, bukan orang dewasa. Guru perlu mengenali watak dan kecenderungan kejiwaan mereka. Materi dan cara yang digunakan harus sesuai dengan mental mereka. Meski mereka nyata-nyata melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. “You have to keep loving them just as much,“ demikian nasihat Bill Cosby.
Kedua, listen what your students have to say, dengarkan apa yang ingin mereka katakan. Banyak guru hanya bicara dan bicara lagi, dan tidak ada waktu bagi murid untuk bicara, mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Dalam penelitian, diketahui guru bicara lebih dari 80%. Mestinya guru lebih banyak mendengar ketimbang bicara, seperti nasihat Mark Twain, “If we were meant to talk more than listen, we would have two mouths and only one ear.“
Ketiga, give the students 100% of yourself, curahkan perhatian sepenuh hati. Perhatian guru berkorelasi secara positif dengan capaian siswa. Di sini, kompetensi personal dan dedikasi guru menjadi taruhan keberhasilan pembelajaran.
Keempat, focusing on the positive, fokus pada hal-hal yang baik dari siswa. Filosofi pengajaran berlawanan dengan filosofi pemberitaan, jurnalistik. Media biasanya selalu mengejar yang buruk-buruk, karena menganut paham, “Bad news is good news.“ Pengajaran justru melihat sisi-sisi positif dan menumbuhkannya, sehingga pembelajaran menarik minat siswa dan membuatnya memiliki passion kasmaran belajar.
Mulai dari guru
Dengan konsep dan kompetensi serta kreativitas guru yang baik, pembelajaran yang diharapkan Pak Menteri itu bisa dilakukan. Penulis, sepaham dengan banyak pakar yang menyatakan, tidak ada mata pelajaran yang jenuh, bikin bete, dan lain-lain; yang ada adalah guru dan cara mengajar yang membosankan.
Jadi, perbaikan kualitas pendidikan kita bisa dimulai dari guru. Idealnya, sesuai UU Guru dan Dosen, seorang guru mesti memiliki 4 kompetensi, yaitu profesional, pedagogis, personal, dan sosial. Sayangnya, di negeri kita, orang-orang terbaik dengan kompetensi tinggi malah tidak banyak yang bersedia menjadi guru. Malahan yang terjadi banyak orang menjadi guru karena tidak bisa menjadi yang lain. Ini yang membuat pendidikan kita tidak bisa mencerahkan dan menyenangkan. Wallahu a`lam.

Sumber : http://widiyanto.com/pendidikan-yang-menyenangkan

PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN LITERASI SISWA DI SEKOLAH

PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN LITERASI SISWA DI SEKOLAH

Oleh : Abas, M.Pd,. M.Si
Pengawas Madrasah Kemenag Tangsel/Pembina Yayasan Harapan Umat

Guru sebagai ujung tombak dalam meningkatkan
kemampuan siswa baik ilmu pengetahuan, sikap atau perilaku
yang positif serta keterampilan yang dimiliki oleh siswa. Guru
sebagai pengajar sebagai pendampingan pada peningkatan
kemampuan anak secara kognitif dan psikomotorik. Semenatar
guru sebagai pendidik, memberikan pendampingan pada
pembentukan mental dan karakter anak . Guru juga sebagai
fasilitator, motivator dan inspirator bagi anak. Pada hakekatnya
anak mempunyai banyak potensi yang belum kita ketahui
keberadaanya. Jika anak sudah nampak bakat dan minat dari
bidang yang di tekuni dan dapat di terapkan, pada akhirnya
kita dapat menilai bahwa anak tersebut mempunyai
kemampuan dan potensi yang luar biasa.

Oleh sebab itu dengan potensi yang dimilikinya , maka
anak dapat melaksanakan literasi yaitu membaca atau menulis
untuk mengungkapkan ide ide yang terpendam. Oleh karena itu
guru sebagai pioner bagi pengembangan literasi di rumah
maupun di sekolah. Literasi tidak lebih dari sekedar
kemampuan membaca dan menulis . Kegiatan membaca
sebagai keterampilan reseptif bisa diukur melalui keterampilan
produktif, yaitu berbicara dan menulis . Literasi tidak terlepas
dari kemampuan keterampilan berbahasa dan juga
memerlukan serangkaian kemampuan ilmu pengetahuan.
literasi di laksanakan di luar kegiatan belajar mengajar , anak
anak di harapkan membaca buku fiksi 15 menit kemudian dari
hasil membaca siswa diharapkan dapat mengungkapkan dalam
bentuk tulisan . Literasi membaca dan menulis bukan hanya
untuk siswa , melainkan untuk guru. Tulisan guru bisa beraneka
ragam baik ilmiah maupun non ilmiah. Tulisan tulisan tersebut
bisa menjadi bukti konkrit bahwa guru juga melakukan kegiatan
literasi.

Guru tidak hanya menjalankan kewajiban literasi ,
melainkan memiliki kesadran akan pentingnya literasi. Guru
sebagai fasilitator dan motivator dalam kegiatan literasi
memiliki kelebihan dibandingkan peneliti lain. Walhasil guru
sebagai peneliti dapat di jadikan dasar dalam pengembangan
literasi. Kesadaran literasi dalam diri siswa akan menjadi dasar
pengyuatan kompetensi literasi di sekolah.Guru memiliki
potensi yang luar biasa dalam pengembangan literasi sekolah .
Dalam mengembangkan literasi kepada siswa, memberikan
mereka keleluasaan untuk memilih bahan bacaan yang
disiapkan guru, meresume buku, mengembangkan kemampuan
sastra dengan membaca puisi , menulis puisi dan
mendeklamasikan puisi. Menulis opini , artikel ilmiah remaja
juga menghasilkan karya dalam bentuk buku.
Guru menyediakan ruang literasi kepada siswa yang akan
melahirkan ide kreatif yang mampu membantu anak
menemukan bakat dan potensinya.

STRATEGI MENDIDIK ANAK HOMESCHOOLING DI ERA DIGITAL

STRATEGI MENDIDIK ANAK HOMESCHOOLING DI ERA DIGITAL

Oleh : Abas, M.Pd,. M.Si

Pengawas Madrasah Kemenag Tangsel / Pembina Yayasan Harapan Umat

Homeschooling merupakan teknik belajar yang dilakukan di rumah sendiri yang metode dan model sama halnya yang dilakukan seperti di sekolah. Pelaksanaan Homeschooling biasanya pada anak anak yang ditinggal oleh orang tuanya terlalu sibuk dalam pekerjaan di kantor, sehingga orang tua mudah dan tidak sulit lagi menghantarkan anaknya ke sekolah setiap paginya.

Berbicara masalah Homeschooling , saat ini sudah menjadi trend tersendiri dikalangan orang tua zaman now. Sejatinya homeschooling ini merupakan sistem belajar berbasis rumah . Artinya orang tua lah yang bertanggungjawab penuh terhadap proses Belajar Mengajar putra putrinya dengan waktu yang sangat fleksibela. Namun hal itu justru kurang dapat perhatian dari orang tua yang mengadakan homeschooling . Orang tua sekarang justru lebih mempercayakan pendidikan anaknya kepada guru yang dipanggil ke rumah di bandingkan orang tua sendiri yang merlakukannya .

Boleh saja orang tua Mengundang guru ke rumah untuk mengajari anaknya, namun jangan melupakan tugas kita sebagai orang tua yang menjadi guru paling pertama dan utama bagi anak anak kita. Jangan sibuk bekerja dijadikan alasan untuk kita tidak meluangkan waktu untuk anak dalam memberikan pendidikan dan pengajaran terehadap mereka. Dalam kontek saat ini sangat tepat juga Homeschooling dilaksanakan di rumah dengan metode Blended Learning.

Pembelajaran bukan hanya secara tatap muka namun dengan daring online. Mendidik anak homeschooling menghadapi beberapa tantangan bagi Orang tua di era digital saat ini . Kekhawatiran orang tua sangat beralasan , karena dapat mempengaruhi pola piker dan tingkah laku anak apabila tidak di saring informasi informasi yang didapat oleh anak di rumah .

Berbeda dengan masa kecil dulu ,sekarang ini ada perubahan mendasar dalam berkomunikasi karena anak anak masa kini tumbuh bersama dengan teknologi. Menyikapi perkembangan teknologi tersebut, orang tua perlu mengambil tindakan untuk memebentengi anak dari pengaruh negarif teknologi , Khususnya teknologi komunikasi. Meskipun dampak poisitifnya tak dapat kita kesampingkan. Orang tua dan guru harus saling mendukung upaya meningkatkan pembelajaran digital yang positif . orang tua menjadi contoh yang baik dalam hal , kapan menggunakan teknologi demi berlangsungnya pembelajaran di rumah dan kapan harus meletakannya teknologi tersebut demi waktu bagi keluarga.

strategi mendidik anak pada pola asuh di era digital natif sebagai berikut :

  1. Menyukai materi yang sifatnya visual dan penuh gerakan gerakan
  2. Mengerjakan tugas sekolah sambil mendengarkan lagu atau music
  3. Menyukai informasi yang bersifat instans artinya informasi informasi yang sifatnya ringan
  4. Aktif dan menonjol sesuai dengan kemampuan dan materi yang di hadapinya
  5. Tidak terlepas dari gejet.
Lingkungan Sosial Siswa di Sekolah

Lingkungan Sosial Siswa di Sekolah

Siswa-siswa di sekolah membentuk suatu lingkungan pergaulan, yang dikenal sebagai lingkungan social siswa. Dalam lingkungan tersebut ditemukan adanya kedudukan dan peranan tertentu. Sebagai ilustrasi, seorang siswa dapat menjabat sebagai pengurus kelas, sebagai ketua kelas, sebagai ketua OSIS di sekolahnya, sebagai pengurus OSIS di sekolah-sekolah di kotannya, di tingkat nasional.

Kedudukan sebagai ketua kelas, ketua OSIS atau ketua OSIS tingkat provinsi memperoleh penghargaan dari sesame antarsiswa. Pada tingkat kota atau wilayah, terjadilah jaringan hubungan social siswa sekota atau sewilayah.

Tiap siswa berada dalam lingkungan social siswa di sekolah.ia memiliki kedudukan dan peranan yang diakui oleh sesama. Jika seorang siswaterterima, maka ia dengan mudah menyesuaikan diri dan segera dapat belajar.

 

Sumber : https://dwipujihastuti.wordpress.com/2015/06/24/lingkungan-sosial-siswa-di-sekolah/

MODEL PEMBELAJARAN PADA MASA PANDEMI COVID 19

MODEL PEMBELAJARAN PADA MASA PANDEMI COVID 19

Oleh : Abas, M.Pd,.M.Si

Pembina yayasan Harum (harapan umat)

Semakin meningkatnya jumlah orang yang terdeteksi positif covid 19, meluasnya pandemic, dan situasi pada saat ini mengharuskan kita semua beraktifitas dari rumah atau Work From Home dan Study From Home. Oleh karena itu dalam kondisi darurat ini, proses pendidikan dilakukan dengan pendekatan  metode atau teknik yang tepat  dan sekaligus membantu upaya untuk menahan laju pertumbuhan wabah covid 19. Di akui banyak pihak selama pencegahan wabah pandemic covid 19 , banyak kisah sedih, lucu , bahkan menarik selama pembelajaran jarak jauh dilaksanakan oleh masing masing sekolah dari PAUD sampai dengan sekolah menengah. Di karenakan masih banyak dari kita yang belum mengerti dan memahami bidan teknologi , seperti pada sebagian orang tua yang sedikit sulit menghadapi dan membimbing anak anaknya dan itupun bukan hanya satu melainkan beberapa orang yang harus di damping dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan teknologi dan tugas yang di berikan oleh guru itupun tidak sedikit melainkan bertumpuk tumpuk.

Mengutif pernyataan dari Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI , Nadiem Makarim , bahwa pembelajaran jarak jauh atau daring   tidak hanya dengan cara online saja akan tetapi ada yang melakukannnya dengan penugasan maka ada yang mgirim, dikirim, atau ada email yang dikirim  melalui internet, pada prakteknya pelaksanaannya di atur oleh  daerahnya masing masing yang paham akan situasi dan kondisi pada saat dan lokasi daerahnya hiaju atau merah. Sehingga guru dapat melaksanan model dan teknik pembelajaran yang rancangnya. Pembelajaran Dengan modal daring ini juga dapat menentukan mana pembelajaran yang sesuai di terapkan di sekolah dan mana yang tidak sesuai. Mana yang baik dan mana yang kurang baik di laksanakan pada sekolah masing masing.

        Pada umunya pembelajaran jarak jauh dengan cara daring lebih santai, cepat, hemat waktu, fleksibel , ekonomis , efektif  dan menyenangkan . Manfaat yang di rasakan oleh siswa dan orang tua dalam pembelajaran daring juga di rasakan dapat lebih melek terhadap teknologi , siswa lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas, dapat menyesuaikan diri , dan dapat menguasai teknologi walaupun ada kendala kendala yang di hadapi oleh siswa misalnya jenis HP yang kurang memadai, kuota yang tidak cukup, terkendala sinyal yang tidak stabil.

          Proses pembelajaran jarak jauh secara online atau tidak seperti  tidak memberatkan orang tua dan bahkan kita akan dibuatnya tercengang dengan hasil kreatifitas dan inovasi mereka yang jauh dari ekspetasi kita sebagai guru, maka itulah yang di sebut pembelajaran yang mengarah pada tujuan yang semestinya mereka belajar untuk belajar bukan belajar untuk apa yang harus di pelajari . singkatnya mereka sudah mulai menjawab  tantangan dunia usaha atas keterampilan yang harus dimilikinya.