SIT CORDOVA

Fun Bike SDIT Cordova

Fun Bike SDIT Cordova

Kemeriahan peringatan kemerdekaan RI yang ke-72 juga terasa di lingkungan SDIT Cordova di tanggal 18 Agustus 2017. Diawali dengan pawai sepeda hias dipagi harinya yang alhamdulillah berjalan dengan lancar, memberikan semangat dan keceriaan di acara-acara selanjutnya hingga siang hari. Berbagai perlombaan diadakan untuk memeriahkan perayaan HUT RI kali ini.

Kegiatan HUT RI ke-72 di SMPIT Cordova

Kegiatan HUT RI ke-72 di SMPIT Cordova

Pada tanggal 21 Agustus 2017 siswa-siswi dan guru-guru SMPIT Cordova aktif mengikuti berbagai perlombaan. Perlombaan individu seperti balap karung dan lomba makan kerupuk rutin mengundang tawa dari peserta dan penonton tiap tahunnya. Ada juga perlombaan antar regu supaya semunya makin kompak. Selamat mengisi kemerdekaan negara kita!

Asyik Membuat Pizza @Paparonz Pizza

Asyik Membuat Pizza @Paparonz Pizza

Anak-anak kelas 1 ini bersenang-senang saat “outing” ke Paparonz Pizza pada 14 Agustus 2018. Dibersamai oleh wali kelas dan pendamping kelasnya, mereka dengan penuh antusias praktek menyusun adonan pizza yang enak. Yummy! Terima kasih Paparonz Pizza… oleh-olehnya.

“Grab your passion and reach your dreams”

“Grab your passion and reach your dreams”

MPLS 2017 berbasis akhlak mulia SMP IT Cordova bertemakan “Grab your passion and reach your dreams”

Melakukan ‘passion’ dan menggapai ‘dreams’ bermula dari melatih kedisiplinan, hangatnya persaudaraan dan membiasakan hidup dalam suasana religius.

Alhamdulillah acara MPLS ini berjalan lancar dan menyenangkan tidak ada unsur perpeloncoan, semuanya gembira, siswa gembira guru pun gembira.

MPLS 2017 SDIT Cordova

MPLS 2017 SDIT Cordova

Mencintai siswa dan siswi sejak awal jumpa, dan menuntun hingga pelajaran-pelajaran bisa sampai kepada siswa dan siswi menjadi tugas bersama guru-guru di sekolah yang bersahaja ini.

Alhamdulillah rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah telah selesai dilaksanakan. Mulai dari tanggal 17 Juli 2016, kegiatan telah terlaksana dengan baik. Wajah-wajah baru yang kemarin terlihat takut dan malu, bahkan masih harus ditemani oleh orang tuanya. Kini sudah menampilkan senyum ceria dan kebahagiaan tanda kesiapannya belajar di Cordova bersama teman-teman.

Selamat bergabung, selamat menuntut ilmu disini siswa dan siswi baru SDIT Cordova 2017-2018. Semoga Alloh memudahkan kalian dalam belajar.

Mabit SMPIT CORDOVA

Mabit SMPIT CORDOVA

“Jadilah Remaja yang Kekinian dan Masuk Surga, Mau?”
Bersama: Kak Malique (Mentor Teladan Nasional)

25-26 November 2016

Karyawisata SDIT Cordova ke Kampung Horta

Karyawisata SDIT Cordova ke Kampung Horta

Sudah hampir satu semester siswa-siswi SDIT Cordova belajar di tahun ajaran ini. Saatnya untuk refresh sejenak, menyegarkan pikiran dan perasaan. Pada tanggal 21 januari 2020 Kelas 1,2 dan 3 SDIT Cordova melakukan karyawisata ke Kampung Horta.

Kamu Bingung Memilih Ekskul? Coba Pertimbangkan 4 Hal Ini!

Kamu Bingung Memilih Ekskul? Coba Pertimbangkan 4 Hal Ini!

Memasuki tahun ajaran baru, kamu akan dikenalkan dengan beragam kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di sekolah. Banyaknya pilihan ini pasti membuatmu bingung. Apa saja sih yang harus dipertimbangkan sebelum memilih ekskul? Ruangguru.com mengulasnya untuk kamu. Simak yuk!
Memilih Ekskul

Tahun ajaran baru, saatnya masuk kembali ke sekolah. Bukan hanya belajar di kelas saja yang perlu persiapan, tapi juga di luar kelas seperti halnya ekskul. Terlebih bagi kamu yang memasuki sekolah baru. Kegiatan ekskul adalah bagian dari aktivitas di sekolah yang membantu mengasah minat, bakat, serta pengembangan diri. Selain itu, kamu juga akan mendapatkan pengalaman lain di luar kegiatan akademik di kelas.

Ada banyak sekali manfaat jika kamu mengikuti kegiatan ini di sekolah. Apalagi jika ekskul tersebut cukup aktif dan berkembang. Di masa depan, kamu tidak hanya dituntut untuk pandai dalam pelajaran, menyelesaikan masalah dari soal-soal yang diberikan guru, atau menghafal rumus. Kamu akan berhadapan dengan berbagai masalah yang ada di dunia kerja, dan berkaitan dengan hubungan antar personal. Seperti tuntutan deadline tugas, konflik sesama teman kantor, manajemen waktu, menyelesaikan masalah keuangan, dan sebagainya. Untuk itu, tidak ada salahnya kalau kamu mengikuti kegiatan ini sebagai bekal berorganisasi. Eits, tapi tanpa melepas tugas utamamu di sekolah, yaitu belajar. Tidak perlu khawatir pada tugas menumpuk dan padatnya ujian. Semua bisa dihadapi asal kamu tahu caranya.

Di awal masuk sekolah, biasanya akan ada demo dari setiap kegiatan ekskul. Tidak jarang, siswa langsung tergiur begitu melihat demo yang ditampilkan oleh para senior. Bisa jadi karena memiliki hobi dan ketertarikan terkait. Sayangnya, banyak juga yang memilih karena faktor keeksisannya, ikut teman, ada seseorang yang dikagumi, atau sekadar iseng-iseng berhadiah.

Sebelum memilih, simak dulu tips berikut untuk membantu kamu dalam mempertimbangkan kegiatan esktrakurikuler apa yang akan dipilih. Tentunya, ekskul yang juga bisa mendukung masa depan kamu selanjutnya.

Memilih Ekskul

Setiap orang pasti memiliki Passion masing-masing. Passion ini berkaitan dengan minat dan bakat yang ada dalam dirimu. Jika suatu kegiatan dipilih berdasarkan keinginan sendiri, minat yang tinggi, dan dorongan yang besar untuk melakukannya, tentunya akan sangat menyenangkan menjalaninya. Sebaliknya, jika dilakukan karena terpaksa atau tidak sama sekali memiliki minat dan bakat di dalamnya, pasti akan terasa berat.

Jenis ekskul di sekolah biasanya berkaitan dengan berbagai bidang. Anak-anak yang suka dengan kegiatan organisasi, ada wadah OSIS dan MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) yang menaunginya. Walaupun sebetulnya setiap ekskul pasti adalah kegiatan berorganisasi. Bagi pecinta seni, bisa megambil seni vokal yang diwakilkan oleh ekskul paduan suara, vocal group, seni daerah, dan sebagainya. Futsal, basket, voli, serta bela diri bisa kamu ikuti jika punya minat di bidang olahraga.
Memilih Ekskul

Bayangkan saja jika kamu memilih kegiatan ekskul di sekolah tanpa adanya passion, pastinya akan terasa sulit. Bukannya berkembang, malah malas-malasan. Efeknya, senior dan anggota lainnya pasti akan sedikit kesal padamu karena kurang aktif. Potensi dalam dirimu juga tidak akan berkembang.

Untuk itu, pilihlah kegiatan yang memang sesuai dengan passion, bukan hanya karena eksis atau sekedar ingin kenalan dengan senior di sana. Dengan passion, potensi atau bakat pasti akan berkembang. Kegiatan ekskul pun juga pasti akan lebih menyenangkan.

Memilih Ekskul

Sebelum mulai, alangkah baiknya jika mencari tahu lebih dahulu program, aktivitas, dan budaya yang ada di dalamnya. Hal ini membantu kamu untuk kenal dan tahu lebih lanjut apa sebetulnya kegiatan inti dari ekskul tersebut.

Jika memilih tanpa tahu ketiga hal tersebut, dikhawatirkan kamu hanya semangat di awal saja. Bukan menikmati kegiatan, malah stagnan dan membuang waktu percuma. Apalagi di tengah padatnya kegiatan studi, seharusnya kegiatan ekskul bisa menjadi pelepas penat.
Memilih Ekskul

Setiap ekskul pasti memiliki program dan aktivitas yang akan dilaksanakan. Minimal, dalam satu tahun atau semester terdapat rencana kegiatan dan program-program yang akan dilaksanakan. Coba cari tahu, dan kamu akan mengetahui bagaimana karakter dari ekskul tersebut, sekaligus melihat kecocokannya denganmu. Kegiatan intensif yang dilakukan akan menunjukkan karakter ekskul tersebut.

Selain program dan aktivitas rutin, kamu pun bisa melihat budaya atau kebiasaan kelompok dari ekskul tersebut. Dari mana? Sebagai contoh, misalnya ekskul kegiatan seni desain ruang atau bangunan. Karakter dari kegiatan tersebut seharusnya banyak ke berbagai pelatihan membuat desain, mengenal warna, atau mengikuti berbagai perlombaan. Jika aktivitas di dalamnya kebanyakan hanya kumpul, mengobrol hal yang kurang penting, jarang ada pelatihan dan ikut lomba, maka perlu ditinjau lagi, apakah sesuai dengan harapanmu? Apakah mampu untuk mendukung peningkatan kualitas dirimu?

Teman-teman bisa mencari tahu program, aktivitas, dan budaya yang ada lewat pengenalan ekskul, pembina, ataupun senior yang sedang maupun pernah mengikutinya.

Memilih Ekskul

Penting kiranya menyesuaikan jadwal dan instensitas kegiatan ekskul dengan berbagai aktivitas sehari-hari. Belajar, kegiatan di rumah bersama keluarga, atau lingkungan sekitar. Tentunya ini semua merupakan pilihan dari dirimu sendiri. Kalau kamu mengikuti kegiatan ekskul yang jadwal dan intensitasnya cukup padat, maka harus menerima risiko mengurangi waktu bersama keluarga atau lingkungan.
Memilih Ekskul

Untuk yang suka dengan aktualisasi minat dan bakatnya, mungkin saja intensitas kegiatan ektrakurikuler malah menjadi menyenangkan dan membuahkan prestasi. Hal ini pastinya memberikan dampak positif untukmu. Akan tetapi, usahakan kegiatan ekskul tidak menyita jam belajarmu secara pribadi ya. Walau bagaimana pun, studi tetap menjadi prioritas utama untuk bekal di masa depan. Ekskul yang baik dan mengikuti peraturan sekolah, akan menyesuaikan dengan kurikulum belajar.

Memilih Ekskul

Tidak jarang di antara kamu memiliki passion terhadap lebih dari satu aktivitas. Tidak salah tentunya memiliki passion yang banyak terhadap kegiatan. Artinya, kamu punya potensi yang beragam untuk bisa ditingkatkan. Namun, pilihlah jumlah ekskul yang memang sesuai dengan kapasitas dirimu. Pilihan jumlah ekskul harus benar-benar diatur sesuai dengan kebutuhan, minat, dan jadwal aktivitas yang lain. Terlalu banyak ekskul bisa mengakibatkan overload, tidak fokus pada target dan rencana yang diharapkan. Sehingga, fokuslah pada target aktifitas, potensi, dan pengalaman apa yang ingin kamu dapatkan, bukan hanya pada jumlah ekskul yang kamu ikuti.
Memilih Ekskul

Itulah empat hal yang perlu dipertimbangkan untuk teman-teman memilih ekskul di sekolah. Jika kegiatan ini malah membuat stress-mu bertambah, nampaknya perlu ada yang ditinjau ulang dalam pemilihannya. Kegiatan ekskul harusnya bukan menambah beban, namun bisa memotivasi dan mendukung studimu. Selamat memilih dan menjalankan ekskul, teman-teman! Jangan lupa untuk seimbangkan dengan belajar dan kegiatan yang lain ya! (FA/TN)

Sekolah yang Mendidik

Sekolah yang Mendidik

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Mengajarkan kepada anak untuk berpikir, bersikap dan berperilaku baik tidak cukup untuk melahirkan anak-anak yang baik. Apalagi sekadar membiasakan anak dengan kebaikan, tidak cukup untuk menjadikan sebuah sekolah dianggap sebagai sekolah yang baik.

Ada hal lain yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. Ada budaya sekolah, iklim kelas yang mendukung anak untuk senantiasa berpikir, bersikap dan berperilaku baik, guru-guru yang memiliki perhatian total serta kecintaan terhadap tugas mendidik, dan orangtua yang memiliki kepercayaan tinggi (trust) terhadap sekolah.

Khususnya poin terakhir, ini menuntut sekolah untuk mampu menjadi lembaga yang memiliki tingkat kelayakan untuk dipercaya yang sangat kuat. Tanpa itu, tidak bisa membangun kepercayaan dari orangtua meskipun sekolah sudah berkali-kali menyelenggarakan acara untuk meningkatkan reputasi sekolah di mata orangtua.
Sangat berbeda antara meningkatkan derajat kelayakan lembaga untuk dipercaya dengan meminta orangtua untuk percaya penuh. Hal ini menuntut sekolah agar terus berbenah dan berusaha dengan sungguh-sungguh menjaga amanah yang diberikan oleh orangtua terhadap sekolah, yakni berusaha memberikan pendidikan terbaik, mengarahkan anak didik agar senantiasa lurus dalam berpikir dan benar dalam berkeyakinan, serta membuka diri untuk menerima masukan dari orangtua.

Sekolah merasa senang terhadap niat baik orangtua meskipun boleh jadi apa yang disampaikan orangtua tidak tepat. Sekolah merasa senang karena melihat iktikad baik orangtua, sehingga sekolah tidak sibuk membela diri.

Sesungguhnya lembaga yang memiliki integritas sangat tinggi lebih mencintai kebaikan –termasuk di dalamnya niat baik orangtua—sekaligus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya di sekolah. Ia lebih suka untuk menambah kesempatan berbenah. Sebaliknya, sekolah yang kehilangan visi akan sibuk membangun reputasi. Caranya dengan menciptakan prestasi, pengakuan dan rekam jejak yang positif.

Di luar itu, ada sekolah-sekolah yang buruk, meskipun di luar tampak sangat baik. Sekolah jenis ini bukan membangun reputasi, tetapi melakukan pencitraan melalui prestasi yang tampaknya memukau. Padahal prestasi tersebut bukan merupakan hasil jerih-payah sekolah, atau prestasi tersebut tidak menggambarkan kualitas inti sekolah, yakni pendidikan. Bukan tidak boleh berprestasi dalam bidang olahraga dan seni. Tetapi tanpa prestasi dalam bidang yang menjadi tugas pokok sekolah, berbagai gelar tersebut tak ada nilainya.
Pertanyaannya, apa yang bisa mengantarkan sekolah menjadi lembaga pendidikan yang baik dan memiliki integritas tinggi?

Pertama, kualitas kepemimpinan kepala sekolah dan wakil-wakilnya (prinsipalship) beserta lembaga yang mengelola. Kedua, totalitas mendidik dari para pengajar. Ini tampak dari tinggi rendahnya passion (kegairahan mengajar yang sangat tinggi) dari para guru yang meliputi kecintaannya terhadap profesi sebagai guru, kecintaan yang sangat besar terhadap anak didik, obsesi yang sangat tinggi untuk mendidik para siswanya menjadi manusia ideal dan terikat secara emosi dengan cita-cita tersebut, memiliki kesediaan meluangkan waktu untuk memperhatikan para siswanya dan sekaligus memiliki kemauan belajar dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan kemampuan maupun kualitasnya sebagai guru.

Sesungguhnya, unsur yang ada pada passion antara lain mencakup obsesi, antusiasme dan ikatan emosi yang kuat sehingga bersemangat (zeal) dengan apa yang digeluti. Jika tiga hal tersebut tidak ada, hampir pasti guru tidak memiliki kegairahan (passion) sebagai pendidik.

Tetapi, tanpa kesediaan untuk belajar, guru akan jumud atau bahkan frustasi meskipun ia memiliki obsesi, entusiasme dan semangat yang menyala-nyala (zeal) disebabkan adanya ikatan emosi yang kuat.
Masalahnya adalah, guru-guru semacam itu sulit sekali kita peroleh melalui proses rekrutmen terbuka. Yang paling memungkinkan adalah melalui proses pencarian dan pendekatan kepada orang-orang yang memenuhi kriteria agar mereka bersedia menjadi guru. Masing-masing membawa konsekuensi bagi sekolah.
Nah.

Kemitraan Sekolah dan Orangtua

Sekolah yang baik tidak bisa dibeli karena ia berdiri untuk sebuah prinsip. Ia memperjuangkan idealisme. Ia sedang ingin mewujudkan sebuah cita-cita mulia. Cukuplah kita merasa khawatir jika sekolah lebih banyak menonjolkan kegiatan-kegiatan populis untuk mengambil hati orangtua daripada melakukan upaya berkesinambungan agar orangtua turut memperjuangkan idealisme tersebut, sekurangnya bersikap hormat terhadap idealisme sekolah serta prinsip-prinsip yang ditegakkan oleh lembaga.

Sekolah yang mudah ikut arus, menuruti kemauan “pasar” dan larut dalam trend, hampir pasti merupakan lembaga yang missi ideologisnya lemah dan visinya tidak jelas.

Ini bukan berarti sekolah mengabaikan peran orangtua. Tanpa ada komitmen orangtua untuk berubah, maka pengajaran, pembiasaan dan pendidikan yang dilakukan oleh sekolah bisa mentah. Tetapi sekolah yang baik tetap bertumpu pada proses yang terencana di sekolah. Sekolah tidak bisa mengandalkan orangtua karena meskipun sama-sama memiliki komitmen yang sangat tinggi, wujud komitmen itu berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahaman dan kemampuan orangtua.

Disamping itu, sekolah juga harus menyadari bahwa tidak mungkin menyamakan cara orangtua mengasuh anak secara total. Ada banyak hal yang menyebabkan para orangtua –termasuk guru—secara alamiah berbeda satu sama lain, bahkan di antara orang-orang yang memiliki cara pandang sama. Tak ada keraguan sedikit pun bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, ‘Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhum ajma’in merupakan Sahabat utama yang penuh kemuliaan, dan khalifah yang mendapat petunjuk (khulafaur rasyidin). Tetapi mereka masing-masing memiliki kepribadian yang unik dan temperamen yang berbeda.

Itu Sahabat utama radhiyallahu ‘anhum. Mereka jauh lebih utama dibanding kita yang hidup sekarang ini. Maka, bagaimana mungkin kita secara total menyamakan cara orangtua murid mengasuh anak dengan cara guru mendidik (atau mengajar?) di sekolah. Jenjang pendidikan berbeda-beda, kemampuan memahami bertingkat-tingkat dan latar belakang sekolah sangat beragam. Padahal, sudah paham sangat berbeda dengan mampu menerapkan dengan baik. Selain itu, mereka menjadi orangtua bukan karena menempuh pendidikan khusus tentang bagaimana menjadi orangtua, tetapi karena mereka sudah punya anak.

Orangtua tidak memiliki persiapan khusus dalam mendidik anak, kecuali orang-orang tertentu saja. Gurulah yang memang sedari awal –seharusnya—mempersiapkan diri bagaimana mendidik para murid, termasuk menghadapi mereka yang bermasalah perilakunya. Apalagi jika kita perhatikan bahwa waktu efektif anak di sekolah jauh lebih banyak dibanding di rumah, maka seharusnya sekolah menjadi koreksi atas apa yang terjadi di rumah.

Lalu apa harus sama antara sekolah dan rumah? Nilai-nilai dasar yang harus ditegakkan. Ini merupakan tugas sekolah untuk secara berkesinambungan melaksanakan pendidikan bagi orangtua agar bersama-sama anak menghormati, memuliakan dan merasa bangga dengan nilai-nilai itu sehingga amat besar keinginan dari setiap pihak untuk mewujudkan nilai tersebut dimana pun mereka berada. Sekadar paham tak akan membuat mereka bangga. Wallahu a’lam bish-shawab. SUARA HIDAYATULLAH, SEPTEMBER 2011

Inilah Sosok Guru Terbaik di Dunia, Hanan Al Hroub

Inilah Sosok Guru Terbaik di Dunia, Hanan Al Hroub

Menurutmu guru terbaik itu seperti apa sih sosoknya? Penyabar, berpikiran terbuka, santai, atau jarang memberi tugas? Nah, kamu perlu kenalan nih dengan seorang wanita yang dinobatkan sebagai guru terbaik di dunia. Bayangkan betapa bangganya karena rekor dunia berhasil ia taklukkan.
terbaik di dunia

Hanan Al Hroub, seorang guru Palestina yang berhasil menyabet penghargaan guru terbaik dalam ajang Global Teacher Prize. Penghargaan ini diadakan oleh “James Varkey” International Foundation, yayasan sosial milik perusahaan pendidikan internasional, GEMS. Tujuannya adalah meningkatkan status profesi guru. Lebih dari 8 ribu orang lho yang memperebutkan pengharagaan ini! Kira-kira, apa yang membuatnya dinobatkan sebagai guru terbaik sedunia?

Ternyata, ia dinilai berjasa mengajarkan prinsip anti kekerasan pada generasi muda Palestina. Wanita berusia 43 tahun ini tumbuh besar di kamp pengungsi Palestina dekat Betlehem. Kesehariannya dijalankan untuk menjadi pengajar bagi para pengungsi. Keputusan untuk mengajar diambilnya setelah anak didiknya melihat penembakan pulang sekolah. Dari sana, ia berpikir mencari jalan keluar agar guru dapat membantu anak-anak yang mengalami trauma. Tak heran jika ia ahli menangani anak-anak yang menderita trauma kekerasan.
terbaik di dunia

Ia berhasil memenangkan babak akhir kompetisi ini melalui inovasi kreatif dalam metode pengajarannya. Hroub menggunakan teknik bermain melalui cara-cara sederhana sebagai sarana untuk berbagi ilmu dan mengubah perilaku anak. Ia juga membangun kepercayaan bersama dengan para peserta didik, serta menanamkan nilai-nilai moral sebelum pengajaran dimulai.
terbaik di dunia

Dalam pidato kemenangannya, ia menyampaikan bahwa sosok guru bisa mengubah dunia. Ia pun menambahkan “Saya bangga menjadi guru perempuan Palestina yang berdiri di atas panggung ini,”. Guru yang memiliki slogan “No to violence” ini mengajar anak-anak mengenai non-kekerasan. Ia pun telah menulis buku berjudul ‘We Play and Learn’ , yang memusatkan perhatian pada pentinganya bermain, kepercayaan, rasa hormat, kejujuran, dan melek huruf.
terbaik di dunia

Psst, penghargaan ini ia raih di tengah-tengah kondisi Palestina dan Israel bersitegang. Uang senilai 1 juta dolar sebagai hadiah dari prestasinya tersebut pun dialokasikan untuk membantu para siswanya. Ia bersaing dengan 10 kandidat dari negara Pakistan, India, Inggris, Australia, Kenya, Finlandia, Jepang dan dua guru dari Amerika Serikat.

Kalau kamu, siapa menurutmu guru terbaik versimu? Atau bagi kamu yang berprofesi sebagai guru, sudahkah kamu jadi guru terbaik? Selamat berinovasi! (TN)