SIT CORDOVA

Warnai dengan Al-Quran

Warnai dengan Al-Quran

Anak-anak merupakan amanah terbesar dari Allah yang harus dijaga, dilindungi dan dirawat dengan baik. Apalagi orang tua berperan penting dalam tumbuh kembang seorang anak, baik buruknya seorang anak tergantung orang tua ketika mendidik di waktu kecil. Nabi SAW bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (beribadah kepada Allah). Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi (Penyembah Api)”. (HR. Muslim)

Nah, melihat hadist di atas terbukti bahwasanya anak akan jadi seperti apa ketika dewasa tergantung orang tuanya yang mendidik. Seperti kata Imam Ghazali “Anak-anak kita adalah mutiara,” memang benar anak-anak itu bagai mutiara yang tak ternilai harganya. Bagaimna caranya agar mutiara tersebut tetap ada nilainya? Itu semua tergantung bagaimana cara orang tua menjaga dan merawatnya.

Tak jarang beberapa orang tua ketika anaknya menangis kebingungan untuk menenangkannya, dan berkata seperti ini. “Waah.. lihat itu burung di langit”. Padahal di langit tidak ada burung, memang menurut ilmu psikologi ketika anak menangis diminta untuk melihat ke atas. Tapi, tanpa sadar orang tua mengajarkan ketidak jujuran, ada juga ketika anak jatuh, orang tua menyalahkan lantainya. Tanpa sadar juga orang tua mengajarkan anak mengkambing-hitamkan lantai. Meski hal sepele itu kurang baik, karena setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Itulah mengapa ketika dewasa beberapa anak merasa takut untuk mencoba hal baru, kurang percaya diri dan lain sebagainya. “Ketika anak diabaikan pada masa pertumbuhan awal, umumnya ia akan berakhlak buruk, seperti pendusta, pendengki, pencuri, suka mengadu domba, suka meminta, suka melakukan hal-hal tiada guna, suka tertawa, dan bertindak gila. Semua ini bisa dihindari dengan pendidikan yang baik”, tutur Imam Ghazali.

Tidak berhenti pada orang tua saja, pendidik atau sering disebut orang tua kedua di sekolah juga turut berkontribusi besar dalam mencetak karakter anak-anak. Negara akan maju jika memiliki generasi yang berpotensi, pemberani, mandiri dan berakhlak mulia. Melihat moral anak-anak saat ini cukup memperihatinkan, perlahan tergerus oleh zaman yang semakin modern. Di sinilah tugas seorang pendidik mengarahkan anak didiknya kepada kebaikan, sebagai fasilitator dalam belajar, sebagai uswah (teladan) di sekolah. Sebab setiap tindakan yang dilakukan seorang pendidik akan direkam anak didiknya, apalagi anak usia dini bisa dikatakan peniru ulung. Untuk itu harus berhati-hati setiap hendak berkata maupun bertindak.

Mendidik tidak asal-asalan ada ilmunya, apalagi mendidik anak-anak, harus penuh kasih sayang dan penuh cinta. Kenapa demikian? Karena anak-anak tidak bisa dipaksa ataupun dikasari. Hati mereka lembut, sulit ditebak dan suka bermain, untuk bisa bersama mereka, orang tua dan pendidik harus bisa masuk ke dunianya. Untuk itu, orang tua dan pendidik hendaknya berkolaborasi dengan baik dalam mendidik anak-anak. Mumpung hati mereka masih bersih tak terwarnai, warnai hati mereka dengan Al Quran agar senantiasa yang diperbuat maupun diucapkan tidak jauh dari koridor islam.
Waallahu‘alam..

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/04/29/80281/warnai-al-quran

Permainan Tradisional Salah Satu Sarana Melatih Anak Bersosialisasi

Permainan Tradisional Salah Satu Sarana Melatih Anak Bersosialisasi

Sosialisasi merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Dia tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Setiap manusia, siapa pun dia pasti membutuhkan bantuan orang lain dalam hidupnya. Baik hal yang besar ataupun kecil. Olehnya itu manusia dikenal juga sebagai makhluk sosial.

Proses sosialisasi pada akhirnya melahirkan dua tipe manusia yakni problem solver atau problem maker. Mereka yang suka berbagi, suka menolong dan peka terhadap sesama, saling memahami serta bertingkah laku positif dikategorikan dalam tipe problem solver. Tipe ini yang diharapkan tumbuh dan menghiasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengisi semua sendi-sendi kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Sebaliknya mereka yang mementingkan ego sendiri, pelit dengan barang miliknya, suka mempermasalahkan hal-hal kecil, sering terlibat tawuran dan tindakan negatif lainnya termasuk dalam tipe problem maker. Mereka cenderung menjadi generasi yang menodai nilai-nilai sosial agung yang telah diilhamkan dalam setiap jiwa manusia.

Pada dasarnya proses sosialisasi dimulai sejak usia manusia lahir di dunia. Setiap anak dikaruniai nilai-nilai sosial yang luhur dari sang pencipta. Tugas orang tua selanjutnya adalah mempertahankan, merawat, memupuk, dan mengembangkan nilai-nilai sosial tersebut agar jangkauannya lebih luas. Walaupun juga, nurani menjadi hal yang sangat besar pengaruhnya pada proses ini. Posisi orang tua sangat penting dalam mengenalkan variabel-variabel yang akan mempengaruhi proses sosialisasi ini. Termasuk cara bijak dalam menyikapi perbedaan dalam proses bersosialisasi. Baik perbedaan selera, latar belakang pengalaman ataupun cara pandang terhadap suatu masalah.

Usia anak pra sekolah (golden age) merupakan masa kerentanan anak untuk melatih dirinya menjadi makhluk sosial yang problem solver. Pada usia ini membutuhkan usaha keras orang tua untuk melatih dan mengembangkan nilai-nilai sosial alamiah anak. Sebab, ketika nilai-nilai sosial tersebut tidak diasah dan dilatih maka akan menjadi terkebiri. Sehingga dia akan tumbuh menjadi generasi yang kurang peka dan egois dalam kehidupan sosialnya.

Dalam masa kerentanan tersebut, harusnya seorang ayah ataupun ibu sangat selektif dalam mendekatkan anak dengan objek-objek yang terkait dengan proses pengembangan jiwa sosialnya. Termasuk dalam menentukan permainan dan tontonan apa yang layak dilakoni oleh sang anak. Juga dalam menasihati dan menjelaskan ketidaktahuan anak yang muncul dalam rasa penasaran nya. Selain itu orang tua juga harus peka terhadap dinamika yang muncul di masyarakat berkaitan dengan proses anak dalam belajar bersosialisasi. Tindakan proteksi yang berlebihan akan mempengaruhi proses perkembangan sosialisasi anak.

Ketika orang tua menghindarkan anaknya untuk bergaul dengan anak lain yang status sosialnya berada di bawahnya, maka akan membuat anak tumbuh dan berkembang dengan perasaan kurang peduli terhadap sesamanya. Sang anak akan mengambil kesimpulan bahwa, “saya tidak boleh bergaul dengan anak orang miskin, karena ibu melarang ku”. Sehingga akan tertanam di dalam pikirannya bahwa dia hanya boleh bergaul dengan teman yang selevel dengan dirinya. Akhirnya dia akan cenderung tumbuh sebagai pribadi yang sombong dan pelit dalam berbagi.

Ketika seorang anak tengah bermain bersama anak lainnya lalu dia menangis karena salah satu anak mengganggunya, maka sebaiknya orang tua menahan diri untuk melakukan pembelaan terhadap anaknya. kecuali anak lainnya melibatkan orang tua dalam menyelesaikan masalah tersebut. Sebaiknya orang tua menahan diri dan membiarkan anak tersebut memecahkan sendiri masalahnya sampai mereka mencapai kata damai bersama anak-anak lainnya. Mereka sesungguhnya sudah memiliki modal awal berupa kepekaan sosial alamiah yang telah diilhamkan oleh sang pencipta dalam dirinya. Karena tidak jarang kita menemukan anak-anak yang saling bergaduh, namun setelah itu mereka akan bermain dan jalan bersama lagi. Bahkan persahabatan mereka bertambah erat setelah hubungan diantara keduanya mereka perbaiki. Sedangkan keterlibatan dan intervensi orang tua dalam menyelesaikan masalah sosial anak hanya akan membuat mereka manja, egois dan bersifat pengecut.

Hari ini seiring perkembangan dunia digital permasalahan anak menjadi sangat kompleks. Sebab perkembangan dunia digital menambah variabel baru dalam mempengaruhi proses sosialisasi anak. Yang paling dekat dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari saat ini adalah lain tontonan dan games digital ataupun online yang sering dimainkan. Dua hal ini sangat akrab dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Sayangnya kemunculan nya tidak terlalu ditanggapi serius oleh para orang tua. Bahkan tidak jarang mereka ikut mendukungnya. Mereka merasa biasa-biasa saja ketika sang anak memperagakan beberapa adegan dan penampilan dari apa yang mereka tonton. Salah satu adegan yang santer saat ini adalah memperagakan aksi-aksi brutal dalam sinetron anak jalanan. Bahkan tidak jarang mereka saling beradu fisik dengan sesamanya dan membagi diri dalam geng-geng yang ada di sinetron tersebut. Sampai ada yang bercita-cita untuk menjadi anggota geng motor.

Sedangkan dari sisi games digital ataupun online, salah satu dampaknya adalah membatasi anak untuk belajar bersosialisasi dengan anak–anak sebayanya. Waktu mereka banyak tersita untuk games digital ataupun online yang cenderung membuat seseorang untuk cenderung mementingkan diri sendiri. Sebab aktivitasnya pada ruang–ruang sempit lagi terbatas interaksi nya. Akhirnya, tidak ada lagi pembiasaan bekerjasama dengan anak-anak lainnya untuk saling memahami satu sama lainnya. Permainan-permainan tradisional yang telah turun-temurun diwariskan dari generasi ke generasi telah tereduksi oleh games-games online. Kalau dulu ada permainan bentengan, engklek, kucing dan tikus, kasti dan yang lainnya, maka saat ini sudah mulai tergantikan oleh Far cry, Mortal Kombat X, Alien Shooter, bahkan saat ini yang tengah populer adalah game Pokemon Go. Padahal permainan tradisional sangat syarat akan nilai-nilai sosial dan pembiasaan nya.

Permainan tradisional selain sebagai alat untuk melatih anak dalam bersosialisasi, juga merupakan salah satu kekayaan budaya kita. Para orang tua terdahulu telah membuktikan akan sikap sosial yang dibangun lewat permainan-permainan sederhana ini. Kekerabatan antar tetangga yang dibangun lewat permainan tradisional, begitu erat. Selain itu dari segi ekonomi, permainan tradisional juga tidak membutuhkan biaya besar. Bahkan ada yang sama sekali tidak membutuhkan biaya. Karena bahannya bisa didapatkan bebas di alam. Jadi teringat masa-masa saat diajak teman-teman untuk mencoret-coret tanah karena hendak bermain engklek.

Sehingga seperti apa generasi bangsa ke depannya sangat ditentukan oleh pembiasaan hari ini. Apa yang ditontonnya, permainan apa yang dimainkannya, kepada siapa dia bergaul, dan pendekatan apa yang diberikan orang tua kepada anaknya sangat mempengaruhi masa depannya. Apakah nantinya ia akan menjadi seorang problem solver ataukah problem maker.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/07/26/81779/permainan-tradisional-salah-satu-sarana-melatih-anak-bersosialisasi

Tahapan Mendidik Anak Ala Rasulullah

Tahapan Mendidik Anak Ala Rasulullah

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. an-Nisaa’ : 9)

Sahabat Ummi, setiap orangtua mendambakan anak yang shaleh, cerdas, dan membanggakan, akan tetapi keinginan dan upaya yang dilakukan sering kali belum selaras.

Kita sebagai orangtua lebih banyak mengandalkan guru maupun tempat les untuk mencerdaskan anak-anak kita, padahal kunci cerdasnya anak, justru ada di rumah, ada pada kedua orangtua!

Orangtua perlu memahami bagaimana tahapan mendidik anak sesuai dengan usianya. Berikut ini adalah tahapan cara mendidik anak ala Rasulullah yang insya Allah dapat mencerdaskan anak-anak kita, baik secara intelektual maupun emosional.

1. Mendidik anak usia 0 hingga 6 tahun: Perlakukan anak sebagai raja

Anak usia 0-6 tahun merupakan usia emas atau Golden Age. Anak pada usia ini akan mengalami masa tumbuh kembang yang sangat cepat. Percepatan tumbuh kembang ini bisa dirangsang dengan mainan. Mainan akan sangat membantu agar anak menjadi anak yang cerdas.
Sedangkan Rasulullah sendiri menganjurkan kepada kita untuk senantiasa berlemah lembut terhadap anak kita yang masih berusia dari 0 hingga 6 tahun. Memanjakan, memberikan kasih sayang, merawat dengan baik dan membangun kedekatan dengan anak merupakan pola mendidik yang baik.

Zona merah: Jangan marah-marah! Jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak, pahami bahwa anak masih kecil dan yang berkembang adalah otak kanannya.

Jadikan anak merasa aman, merasa dilindungi dan nyaman bersama orangtua. Ketika anak nakal maka janganlah membiasakan untuk dipukul supaya anak mau menurut. Memukul ataupun memarahi anak pada usia ini bukanlah cara yang tepat. Berikanlah kesempatan pada anak agar merasakan kebahagiaan yang berkualitas dimasa kecil.

2. Mendidik anak usia 7 hingga 14 tahun: Perlakukan anak sebagai tawanan perang/ pembantu

“Perintahkan anak-anakmu untuk shalat saat mereka telah berusia 7 tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berusia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Perkenalkanlah anak dengan tanggung jawab dan kedisiplinan pada usia ini. Kita bisa melatihnya mulai dari memisahkan tempat tidurnya dan mendirikan shalat 5 waktu.

Pukullah anak ketika anak tidak mau mendirikan shalat. Tapi bukan pukulan yang menyakitkan atau pukulan di kepalanya. Atau kita bisa membuat sanksi-sanksi ketika anak melanggar, namun sanksi yang diberikan usahakan sesuai dengan kesepakatan antara anak dan orangtua.

Zona kuning: Zona hati-hati dan waspada. Latih anak mandiri mengurus dirinya sendiri, missal cuci piring, cuci baju, menyetrika. Pelajaran mandiri ini akan bermanfaat banyak di masa depannya, untuk kecerdasan emosionalnya.

3. Mendidik anak usia 15 hingga 21 tahun: Perlakukan anak seperti sahabat

Anak pada usia ini adalah usia dimana anak akan cenderung memberontak. Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan yang baik kepada anak. Fungsinya adalah agar kita bisa meluruskan anak ketika anak berbuat kesalahan, karena kita dekat dengan anak.

Zona hijau: sudah boleh jalan. Anak sudah bisa dilepas mandiri dan menjadi duta keluarga.

Timbulkan rasa nyaman pada anak bahwa kita orangtua namun bisa bersikap seperti sahabat setia. Sahabat setia yang siap mendengar segala cerita dan curahan hati anak.
Masa ini adalah masa pubertas untuk anak-anak.

Jangan sampai ketika anak-anak punya masalah namun mereka cari solusi dan cari curhat ke tempat orang lain. Didiklah anak dengan membangun persahabatan meskipun kita adalah orangtuanya, agar anak tidak merasa bahwa kita adalah orang ketiga yang tidak boleh tahu tentang permasalahan dirinya.

Para orangtua juga dilarang untuk memarahi dan menghardik anak di hadapan adik-adiknya ataupun di depan kakak-kakaknya. Maksudnya supaya harga dirinya tidak jatuh sehingga anak tidak merasa rendah diri. Jalinlah pendekatan yang baik kepada anak.

Semoga bermanfaat.

Kuncinya Pada Guru

Kuncinya Pada Guru

Apakah yang dapat kita harapkan dari guru-guru yang datang ke kelas hanya untuk menerangkan mata pelajaran? Apakah yang dapat kita minta dari para guru yang datang ke kelas hanya berbekal pengetahuan sederhana? Apakah yang dapat kita jaminkan atas anak-anak kita jika guru hanya peduli jam mengajar? Sementara tentang murid-muridnya, ia nyaris mengenali kecuali sekadar nama, wajah, dan suaranya saja.

Sungguh, kunci keberhasilan guru terutama terletak pada kompetensi sebagai pengajar, baik kompetensi mengajar maupun kompetensi dalam bidang studi yang ia ajarkan. Tapi sungguh, bukan itu yang paling pokok. Ada yang lebih mendasar lagi, yakni adakah kerisauan besar dalam dirinya yang ia hayati sepenuh hati dan ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Ia risau atas keadaan anak-anak di zaman ini. Ia menginginkan kebaikan yang besar pada diri muridnya. Dan ia menghabiskan waktunya dengan memberi perhatian, berjuang dengan sungguh-sungguh dan belajar secara gigih agar dapat mengantarkan anak didiknya menjadi manusia-manusia terbaik sesuai apa yang ia yakini sebagai kualitas ideal manusia.

Tanpa obsesi yang sangat tinggi untuk mendidik para murid menjadi manusia ideal, maka kegiatan mengajar hanya sekadar rutinitas saja. Begitu pula sekadar mampu merumuskan cita-cita secara tertulis, tapi tidak memiliki ikatan emosi dengan cita-cita tersebut, sulit baginya untuk meluangkan waktu bagi murid-muridnya sekaligus melapangkan telinga untuk mendengarkan penuturan murid dengan sepenuh jiwa. Mengajar hanya sekadar kegiatan fisik saja. Ia tidak membekas pada diri guru, tidak pula pada diri murid.

Jika materi yang mudah diingat saja tak membekas, apalagi dengan adab yang memerlukan kesabaran, dorongan, dukungan, dan pendampingan dalam membentuknya. Maka, kunci sangat penting memulai ta’dib (proses pendidikan adab) adalah guru. Adakah para guru yang melakukan ta’dib memiliki kecintaan terhadap murid-muridnya? Adakah para guru amat mengingini bagusnya akhlak anak didik? Bukan agar mudah menangani mereka, tetapi karena mengingini keselamatan anak didik di Yaumil-Qiyamah. Tampaknya tipis perbedaannya, tetapi jauh sekali akibatnya. Merisaukan akhlak anak didik karena mengingini keselamatan mereka di akhirat mendorong kita lebih sabar menghadapi kesulitan. Sementara merisaukan akhlak hanya karena mengingini penanganan anak jadi lebih mudah, membuat kita mudah berpuas diri. Mencukupkan diri dengan yang tampak dan mudah abai terhadap apa yang kurang.

Berkenaan dengan keprihatinan yang amat dalam ini, teringatlah saya dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah [9]: 128).

Sangat mengingini keimanan dan keselamatan. Inilah perkara penting yang harus dimiliki oleh seorang guru yang benar-benar berkeinginan membangun adab pada diri murid-muridnya. Ia bersungguh-sungguh mendidik, memiliki belas-kasih lagi penyayang. Kecintaan itu memang ada di dalam hati. Begitu pula besarnya keinginan untuk membaguskan murid-murid. Tapi ia amat berpengaruh pada kata yang kita ucapkan, adakah ia menjadi perkataan yang membekas ataukah sekadar lewat saja.

Selebihnya, seorang guru perlu memperhatikan adab-adab mengajar. Semoga Allah Ta’ala mudahkan upaya membangun adab pada diri murid.

Lalu, apa saja yang penting untuk diperhatikan:

Tulus Mengajar
Bekal penting yang harus dimiliki oleh setiap guru adalah ketulusan mengajar. Tidak berharga suatu amal tanpa keikhlasan. Boleh jadi seorang guru memang bekerja pada sebuah lembaga pendidikan. Tetapi di atas itu semua, ia adalah orang yang sangat berpengaruh dalam menempa jiwa anak didik. Maka lebih dari sekadar tugas mengajar, ia harus memiliki ketulusan yang amat dalam sehingga ringan hatinya menyambut kehadiran dan keingintahuan anak didiknya.

Sama pentingnya dengan ketulusan adalah bagusnya penyambutan terhadap anak didik sehingga mereka merasa dicintai oleh gurunya atau pengasuhnya di asrama. Inilah yang akan melahirkan rasa hormat pada diri anak didik terhadap guru. Ini pula yang menjadikan anak didik lebih mudah menerima nasehat dan ilmu dari guru.
Tentang menyambut penuntut ilmu, teringatlah saya pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani dari Shafwan bin ‘Asal Al-Muradi. Ia berkata, ”Saya mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam dan beliau di masjid bersandar dengan memakai burdah merah. Saya berkata kepada beliau, ‘Ya Rasul Allah, saya datang untuk menuntut ilmu.”

Beliau bersabda, “Selamat datang penuntut ilmu! Sesungguhnya penuntut ilmu dinaungi oleh para malaikat dengan sayapnya, kemudian mereka saling menumpuk hingga langit dunia, karena kecintaan mereka terhadap apa yang dia pelajari.” (Riwayat Ath-Thabrani).

Ketulusan mengajar itu juga ditampakkan dengan sikap saat bicara, ditampakkan juga saat mendengar murid berbicara. Bukankah kita ingat bagaimana Rasulullah mencondongkan badan ketika mendengarkan lawan bicara?

Tawadhu’
Salah satu kunci sukses seorang murid adalah hormat kepada guru. Dan rasa hormat kepada guru ini akan tertancap lebih kuat dalam diri murid jika ia memiliki seorang guru yang tawadhu’, guru yang rendah hati. Bukan rendah diri. Bukan pula yang gila hormat dan selalu ingin didengar. Faktor yang sangat menentukan keberhasilan murid memang kesediaan dan kesungguhan mendengarkan ucapan gurunya. Tetapi pada saat yang sama, guru juga perlu menjadikan dirinya sebagai sosok yang pantas untuk senantiasa didengar dan dipatuhi oleh muridnya.

Mari kita ingat sejenak perkataan Anas bin Malik tentang pribadi Rasulullah. Ia berkata, “Tidak ada orang yang paling dicintai oleh para Sahabat melebihi Rasulullah. Walau begitu, ketika melihat Rasulullah mereka tidak berdiri karena mengetahui bahwa Rasulullah tidak menyukai hal itu.” (Riwayat Bukhari, Ahmad, At-Tirmidzi & Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi).

Hadis ini memberi pelajaran kepada kita tentang sosok guru paling sempurna, Rasulullah. Kecintaan para muridnya –para Sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in– tak diragukan lagi. Tetapi kecintaan yang besar itu tidak menyebabkan mereka berdiri menghormat. Ini merupakan salah satu saja dari sekian banyak pertanda tentang kerendah-hatian beliau sehingga justru menjadikan beliau makin dicintai.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang suka untuk disambut dengan cara berdiri, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di api neraka.” (Riwayat Abu Dawud).

Mengenali Murid
Hal lain yang perlu dimiliki guru adalah kesediaan dan keinginan untuk mengenali pribadi muridnya dengan baik. Bukan hanya tahu nama dan wajah. Jangankan berbicara dalam konteks pendidikan adab, lebih khusus lagi pendidikan Islam, bicara pendidikan secara umum pun pengenalan yang baik terhadap murid memegang peranan penting. Banyak masalah yang berkembang di kelas maupun asrama karena guru tidak memiliki pengenalan yang baik terhadap murid, sehingga tidak mampu membaca apa yang sedang menjadi keresahan muridnya. Kadang guru bahkan seperti tak peduli dengan keadaan murid.

Pengenalan yang baik terhadap murid memudahkan guru bertindak secara lebih tepat. Selain itu, juga meringankan hati mereka untuk lebih toleran terhadap murid. SUARA HIDYATULLAH MEI 2012

Menjadi Orang Tua Yang Muslih

Menjadi Orang Tua Yang Muslih

Oleh: Ust.Djalaludin Asy Syatibi

Bismillahirrohmanirrohiim…

Seorang lelaki menegur Al-A’masyi, “Bagaimana Anda mau dikerumuni oleh anak-anak kecil seperti itu?” Lalu ulama dari kalangan Tabi’in itu menyahuti pertanyaan itu, “Kenapa tidak? Mereka itulah calon pembela agama Anda.”

Kisah di atas penulis nukilkan dari Kitab al-Kifaayah fii ‘Ilmi ar-Riwaayah karya Al-Khatib Al-Baghdady. Sungguh dalam kisah itu menyiratkan banyak pesan: kedekatan dan keakraban seorang ulama dengan anak-anak kecil, dan yang paling utama adalah bagaimana Al-A’masy melekatkan asanya terhadap anak-anak itu sebagai perisai terdepan dalam membela Islam.

Inilah yang dinamakan orientasi pendidikan anak untuk menjadi seorang pewaris para Nabi (waratsatul anbiya). Sebuah cetak biru seorang anak yang tak hanya seonggok harapan ego orang tua atau ambisi pribadinya. Tapi lebih dari itu ia adalah aspek terpenting dalam kerangka keummatan. Sang penyampai kebenaran dan tentunya sang reformis sejati seperti halnya digemakan oleh salah seorang Nabi Allah. Sang Reformis dalam bidang ekonomi Syuaib AS.,” Yang kukehendaki hanya reformasi sekuat tenagaku.” (11:88)

Adalah panutan Al-A’masy, Rasulullah SAW, telah lebih dulu memberikan isyarat ihwal cetak biru sang anak dalam kerangka keummatan. Tatkala Al-Mustafa SAW didera derita dan duka teramat dalam akibat cercaan dan lemparan batu penduduk Thaif, tepatnya di Qarnul Manazil, maka dihampirilah beliau oleh Malaikat Jibril dan Malaikat Jabal (Gunung). Kedua utusan Allah menawari Rasulullah untuk menimpakkan dua gunung atas penduduk Thaif yang enggan menerima cahaya Islam. Perhatikanlah, apa jawaban Rasulullah, “Tapi saya berharap kepada Allah agar memunculkan dari anak cucu mereka yang menyembah Allah dan sekali-kali tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.”

Nah, dalam konteks kekitaan sebagai dai, murobbi, dan penyeru dakwah, merupakan sebuah keniscayaan menjadikan anak-anak kita sebagai asset umat, yang berperan sebagai halqatul washl (penyambung) perjuangan dakwah. Bukan sekedar menghantarkan anak-anak kita meraih ego pribadinya, tanpa sedikitpun berkontribusi dan bersaham untuk ishlahul ummah-mereformasi ummat. Konsep ini kemudian dilukiskan oleh Al-Qur’an sebagai bagian dari untaian doa seorang yang sudah menginjak usia kematangan,

“…dan berikanlah aku kebaikan (wa ashlih lii) yang akan mengalir sampai anak cucuku…”(46:15)

Untaian doa itu jelas-jelas menginginkan agar generasi kemudian tertulari kebaikan-kebaikan pendahulunya, yang antara lain kebaikan sebagai dai, murobbi dan penyeru. Menarik untuk direnungi, penggalan doa wa ashlih lii dapat juga diartikan sebuah permohonan tulus agar para orangtua direformasi terlebih dulu, untuk kemudian mereka dapat mengishlaah anak cucunya, sehingga dengan demikian terjadi regenerasi kebaikan.

Tentu mencetak anak menjadi pewaris para nabi, dai, dan reformis tak segampang membalikkan telapak tangan. Ada banyak hal yang dapat mewarnai (shibghoh) sang anak. Namun dari sekian banyak hal itu, lingkungan pertama anaklah yang paling menentukan, yaitu keluarga, yang terdiri ayah dan ibu sang anak. Di sinilah peran orangtua menjadi demikian krusial dalam kaitan cetak biru si anak. Oleh karenanya, Rasulullah telah mewanti-wanti kita semua bahwa, “Kedua orangtuanya lah yang menjadikan ia seorang Yahudi atau Nasrani atau Majusi.”

Maka kata kuncinya adalah, untuk menjadikan anak itu seorang pewaris para nabi-sang reformis-, maka yang perlu dikemukakan di sini adalah: sudahkan orangtua memiliki kafaah (kompentensi) yang mushlih (reformis)? Karena faaqidu asyaysi laa yu’thiy.

Karakter Orangtua Mushlih

Pepatah mengatakan “Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Boleh dikatakan bahwa perilaku anak merupakan miniatur orangtuanya. Artinya, anak akan merekam semua tingkah laku orangtuanya. Pasalnya, orangtua merupakan guru pertama si anak, dan demikian pula keluarga merupakan sekolah perdananya. Terlebih lagi masa anak-anak merupakan masa penyetingan paling awal yang akan dapat menghitam putihkan seorang anak.

Dalam pepatah Arab dikatakan,
العلم في الصغر كالنقش في الحجر ، و العلم في الكبر كالغرز بالإبر

“Belajar ketika kecil tak ubahnya memahat di atas batu, sementara belajar ketika sudah berumur tak ubahnya menusuk dengan jarum.”

Walhasil, orangtua yang tengah memberikan asupan tarbiyah kepada anaknya tak jauh beda dengan seseorang yang sedang mengukir di atas batu, yang tak pelak lagi ukiran itu merupakan torehan yang tak akan lekang dalam sekejap, tapi memerlukan rentang waktu lumayan lama untuk menghilangkan torehan itu.

Jadi, tak diragukan lagi bahwa orang tua memegang peranan sangat strategis dalam menentukan putih atau hitamnya seorang anak. Maka dalam kaitan ini, perlu kiranya kita-sebagai orangtua- mereevaluasi perilaku-perilaku kita, dengan sebuah pengharapan agar perilaku-perilaku kita kompeten untuk menjadi pribadi-pribadi pewaris para nabi, dai, murobbi dan seorang reformis sejati. Dengan demikian, kita tidak menjadi pribadi yang ambigu seperti disindir Allah SWT,

“Apakah kalian menyuruh manusia untuk berbuat kebajikan sementara kalian melupakan diri kalian.” (2:44)

Dan mencari sosok yang memiliki kompetensi sebagai orangtua yang ashlih lii (baca:mushlih) tidaklah sulit. Rasululah merupakan telaga teladan dalam banyak hal tanpa kecuali Rasulullah sebagai orangtua. Dan sifat-sifat Rasulullah dalam mentarbiyah anak-anaknya adalah:

Pertama, bersikap adil. Keadilan merupakan kebenaran universal. Islam memandang keadilan sebagai hal yang dapat mendekatkan kepada ketaqwaan. Penegakkan keadilan dalam tataran kehidupan bernegara sama pentingnya dalam tataran kehidupan keluarga.

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang berlaku adil akan dimuliakan di sisi Allah di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, yaitu mereka yang berlaku adil dalam hukumnya, berlaku adil terhadap keluarga dan apa saja yang mereka pimpin.” (HR. Muslim)

Keadilan orangtua atas anak-anaknya akan mendatangkan ketenteram dan ketenangan. Sudah barang tentu tumbuh kembang psikologis anak akan sehat jika lingkungan tempat ia hidup sehat. Sehingga, pelbagai patologi sosial yang mengancam si anak semakin tak menemukan relevansinya. Lingkungan yang dikungkungi keadilan merupakan ranah yang haram bagi iri, dengki, benci, amarah, permusuhan dan prasangka-prasangka buruk. Dan kisah Nabi Yusuf menyisakan pelajaran penting ihwal perlakukan tidak adil yang dirasakan saudara-saudara Yusuf. Alhasil, kisah Yusuf dan saudara-saudaranya itu dipenuhi dengan intrik, konspirasi dan aksi balas dendam.

Maka wajar saja Rasulullah pernah menegur keras seorang lelaki yang mencium anak lelakinya dan tak melakukan hal yang sama terhadap anak perempuannya. “Kamu tidak bersikap adil di antara keduanya,” ujar Rasulullah (HR. Baihaqi)

Lebih tegas lagi Rasulullah berpesan kepada kita, “Bertaqwalah kepada Allah, bersikap adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR. Muslim)

Kedua, bersikap sabar, yaitu menahan jiwa dari rasa putus asa, lisan dari keluh kesah dan jasmani dari aksi-aksi vandalisme. Jiwa menyekam rasa putus asa, lisan ekspresi kata-kata dan puncaknya diekspresikan oleh aksi-aksi brutal yang tak terkendali.

Adalah anak-anak yang kerapkali menjadi sumber rasa putus asa, kekesalan dan tumpahan kekerasan fisik. Pasalnya, dunia anak selain menggemaskan sekaligus mengesalkan. Karenanya orangtua dituntut sabar dalam menghadapi anak-anaknya. Sesungguhnya dalam kesabaran itu ada kejernihan pikir. Rasulullah menyebutnya “Sabar itu cahaya”. Sesungguhnya pula kesabaran itu sifat pemimpin sejati. Bersikap sabar terhadap anak berarti pula mengajari anak secara verbal tentang makna penting dari kesabaran, yang merupakan prasyarat kandidat pemimpin handal. Faktanya pemimpin akan selalu dihadapkan pada pelbagai macam prilaku dan masalah yang mendera rakyatnya.

“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.”(As-Sjadah: 56)

Ketiga, kasih sayang. Allah SWT telah menjadikan anak sebagai pribadi yang sangat tergantung kepada orang lain, terutama ibunya. Sebuah studi menemukan bahwa anak bayi akan mengenal ibunya hanya beberapa saat sejak kelahirannya melalui ciuman. Lalu, mulailah sang anak itu menantikan perlindungan, kelembutan dan sentuhan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Karena itu, anak akan selalu mencari orang yang membuatnya sumringah, membelai wajahnya, memanjakannya, mencandainya dan mengajaknya bicara dan bermain. Maka, sejauh mana kelembutan dan kasih sayang yang diberikan kepada si anak, sejauh itulah kelapanga dirinya untuk mencintai dan mengasihi orang lain di masa depan.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah shalat Jum’at sambil menggendong putri beliau Umamah Binti Zainab. Jika Rasulullah sujud, beliau meletakkannya dan manakala bangkit dari sujud, beliau menggendongnya kembali. Pada riwayat lainnya diceritakan bahwa Rasulullah mempercepat shalatnya gara-gara ada anak yang tengah menangis.

Abdullah bin Syidad menceritakan,

بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي بالناس إذ جاءه الحسين فركب عنقه و هو ساجد ، فأطال السجود بين الناس حتى ظنوا أنّه قد حدث أمر فلما قضى صلاته ، سألوه عن ذلك ، فقال عليه الصلاة و السلام : (إن ابني ارتحلني ، فكرهت أن أعجله حتى يقضي حاجته

Ketika Rasulullah menjadi imam shalat, tiba-tiba Husen datang menghampiri beliau dan langsung menunggangi leher beliau ketika beliau sujud, maka beliau memanjangkan sujudnya sampai-sampai orang menyangka bahwa telah terjadi sesuatu hal. Ketika shalat selesai, mereka bertanya ihwal kejadian itu. Rasulullah SAW mengatakan, “Sesungguhnya anakku menunggangiku, maka saya tidak mau ia terburu-buru (agar turun) sampai ia merasa puas.” (HR. An-Nasai)

Jika saat shalat saja Rasulullah tetap mencurahkan rasa kasih sayang dan kelembutan terhadap anak, tentu min baabil aula saat-saat di luar shalat. Ini saja sudah memberikan sinyal sangat kuat bahwa memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh disepelekan.

Sebenarnya sikap keras hati dan kasar hanya akan membuat orang menjauh. Demikian pula sikap kasih sayang akan kian mendekatkan hubungan anak dengan orangtuanya. Pada spectrum yang lebih luas lagi, lembut dan kasih sayang menyebabkan mendekatnya obyek-obyek dakwah. Allah telah memberikan bimbinganNya,

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Dan akhirnya, secara lugas dan tegas Rasulullah mengatakan, “Sesungguhnya setiap pohon itu berbuah. Buah hati adalah anak. Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya.”

Lalu Rasulullah melanjutkan,

والذي نفسي بيده! لا يدخل الجنة إلاّ رحيم
“Demi Dzat yang jiawaku ada di Tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali penyayang.” (HR Ibnu Bazzar)

Keempat, menjadi teladan. Keteladanan merupakan cara paling efektif dalam transfer berbagai corak nilai-nilai kebaikan. Pepatah Arab mengatakan bahwa contoh nyata satu orang bagi seribu orang lebih baik ketimbang kata-kata seribu orang untuk satu orang. Dalam kaitan ini orangtua benar-benar dituntut bisa menyelaraskan segala bentuk perilakunya. Hal demikian karena anak akan selalu melihat dan meniru tingkah pola orang tua ketimbang kata-katanya. Bagi anak, bahasa tubuh lebih mudah dipahami daripada bahasa lisan.

Ibnu Abbas mengenang masa kecilnya bersama Rasulullah, “Aku bermalam di rumah bibiku, Maimunah, dan aku melihat Rasulullah bangun malam. Setelah memasuki sebagian malam, beliau bangun dan berwudhu ringan dengan air dari dalam kantong kulit yang digantung di dinding kamarnya. Usai itu beliau pun mengerjakan shalat malam. Aku pun ikut bangun dan berwudhu dari tempat air yang dipergunakan beliau, kemudian aku berdiri shalat di samping kiri beliau, lalu beliau memindahkanku ke samping kanannya.” (HR Bukhari)

Selain itu, orangtua juga dituntut untuk senantiasa menyelaraskan antara perbuatan dan perkataan. Hal itu akan membantu anak dalam menginternalisasi nilai-nilai kejujuran pada diri anak. Abdullah Ibnu Amir bertutur bahwa saat Rasulullah berada di rumahnya tiba-tiba sang ibu memanggilnya, “Kemarilah! Saya akan memberimu.” Rasulullah pun menyela, “Apa yang akan engkau berikan?” “Saya akan memberinya kurma,” ujar wanita itu. Nabi pun menasehatinya, “Ingat! Jika ternyata engkau tidak memberinya apapun maka engkau akan tercatat sebagai pembohong.” (HR Abu Dawud)

Maka, tatkala seorang anak melihat adanya keselarasan antara kata-kata dan perbuatan, pada hakikatnya anak sedang diajari makna kejujuran, integritas dan komitmen. Imbasnya, orangtua akan memiliki wibawa di mata anak, sehingga orangtua akan selalu digugu, ditiru dan ditaati. Inilah yang dinamakan birrul waalidain, berbakti kepada orangtua.

Keterlibatan orangtua dalam memberikan keteladanan terhadap anak, adalah bagian dari sikap responsive orangtua dalam mempersiapkan anaknya untuk berbakti, tidak malah durhaka. Model orangtua proaktif seperti itu akan mendapatkan rahmat Allah SWT. “Semoga Allah merahmati orangtua yang menolong anaknya agar berbakti kepadanya,” kata Rasulullah (HR Ibnu Hibban)

Kelima, karakter orangtua yang reformis adalah senantiasa menghargai sang anak. Adalah Rasulullah yang pernah membariskan Abdullah, Ubaidillah dan anak-anak Abbas lainnya. Beliau mengatakan, “Siapa saja yang dapat mendahului saya, dia akan mendapatkan ini.” Maka mereka pun berlomba membalap Rasulullah sehingga mereka berjatuhan di atas dada dan punggung beliau. Setelah itu mereka dipegangi dan diciumi oleh beliau. Itulah sebuah bentuk penghargaan Nabi terhadap anak-anak.

Menghargai anak adalah bentuk pengakuan terhadap keberadaan sang anak, sehingga anak akan termotivasi untuk mengembangkan potensinya tanpa merasa malu dan minder. Ketika anak itu dihargai dan dipuji, maka itu akan membuatnya terdorong untuk kembali melakukan pekerjaan kebaikan yang pernah dilakukannya.

Ibnu Abbas bertutur, saat Rasulullah pergi ke tempat buang hajat, saya menyediakan air untuk wudhu beliau. Usai buang hajat, beliau melihat air tersebut telah tersedia. “Siapa yang membawakannya?” Tanya beliau. Setelah saya memberitahukannya, maka beliau pun mendoakan aku sebagai bentuk penghargaan,

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
“Ya Allah, berilah ia pemahaman tentang agama dan ilmu tentang tafsir Al-Qur’an.”

Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim itu merupakan kisah bagaimana Rasulullah memberikan penghargaan atas inisiatif Ibnu Abbas, dimana penghargaaan itu tidak identik dengan materi, tapi juga meliputi kata-kata yang membuat sang anak bersemangat.

Keenam, mengayomi. Syaikh Muhammad AL-Khidr dalam bukunya As-Sa’adatul Udhma memberikan sebuah analisa, banyak orang tidak menyadari kalau anak adalah salah satu dari pemimpin umat, hanya karena masih tertutup dengan baju anak. Seandainya apa yang ada di balik bajunya dibukakan kepada kita, niscaya kita akan melihat mereka layak disejajarkan dengan para pemimpin. Namun, sunnatullah menghendaki agar tabir itu disibakkan sedikit demi sedikit melalului pendidikan.

Merujuk ke analisa tadi, maka orangtua dituntut untuk mengayomi bakat-bakat dan kemampuan anak yang tersembunyi di balik tabir, bukan malah membunuhnya. Mengayomi artinya memelihara potensi-potensi anak sembari berupaya memberikan stimulasi-stimulasi untuk mengembangkan potensi anak seperti dengan metode bercerita, reward dan punishment, dan games-games yang bermanfaat. Oleh karena itu, orangtua dituntut kreatif dalam upaya pengembangan ini.

Adalah Umar bin Khatab yang telah memberikan contoh bagaimana mengayomi dan mengembangkan potensi seorang anak bernama Ibnu Abbas. Umar pernah mengajak Ibnu Abbas ke sebuah pertemuan yang dihadiri para pembesar Badar. Sebagian dari mereka mempertanyakan sikap Umar itu, karena mereka melihat majlis itu tak diperuntukkan untuk anak kecil. Hingga akhirnya para pembesar Badar itu sadar ihwal ketinggian ilmu Ibnu Abbas meski masih belia ketika Ibnu Abbas memberikan makna dari Surat An-Nashr sebagai isyarat sudah dekatnya ajal Rasulullah.

Sejarah Islam pun mencatat banyak sosok belia yang punya peran penting dalam kerangka keummatan. Usamah bin Zaid pada usia 17 tahun tercatat sebagai panglima perang dalam sebuah pasukan yang akan menghadapi tentara Romawi di wilayah Syam, padahal dalam pasukan itu tercatat nama Abu Bakar dan Umar. Rasulullah mengutus Muadz bin Jabal sebagai duta Islam ke Yaman. Saat itu Muadz berusia 19 tahun.

Tentu yang harus diperhatikan para orangtua dalam proses pengembangan ini adalah adanya pentahapan (tadarruj), karena kemampuan akal seorang anak sangat berbeda dengan orang dewasa. Rasulullah bersabda, “Perintahlah anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika enggan shalat) ketika berumur sepuluh tahun.” (HR Abu Dawud)

Ketujuh, komunikatif. Sebenarnya dari semua nilai-nilai yang akan diberikan kepada anak tidak akan pernah tersampaikan secara baik bila saluran komunikasinya buruk. Maka orangtua haruslah menjadi pribadi yang komunikatif, tidak tertutup dan berbicara hanya satu arah. Terjadinya komunikasi sehat antara orangtua dengan anak akan membantu menumbuhkan dan mempertajam penalarannnya serta menjadi lebih terbuka.

Umar pernah mendapati pengaduan seseorang yang anaknya dianggap durhaka. Umar pun bertanya kepada anak itu, “Apa yang menyebabkan kamu durhaka kepada ayahmu?” “Wahai Amirul Mukminin, apa sajakah hak anak yang harus ditunaikan oleh orangtuanya,” Tanya anak itu. Umar menjawabnya, “Memberi nama yang baik, memilihkan ibu yang baik dan mengajarinya Al-Qur’an.” Anak itu mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, ayahku tidak melaksanakan sedikit pun perkara itu terhadapku.” Maka Umar pun menasehati orangtua itu, “Kamu telah mendurhakai anakmu sebelum anakmu mendurhakaimu.”

Sangat jelas sekali buah dari adanya dialog yang komunikatif adalah adanya keterbukaan. Dengan begitu, segala permasalahan akan segera dapat ditemukan cara penyelesaiannya.

Demikianlah tujuh karakter orangtua reformis, yang kesemua karakter itu pada dasarnya merupakan sikap dasar seorang dai dan murobbi. Sebenarnya ketujuh karakter itu merupakan perilaku yang harus dipraktekkan, bukan sekedar teori kata-kata. Dengan demikian, para orangtua harus mempraktekkan karakter-karakter itu dengan sebenar-benarnya. Wallahua’lam bish showwab

*) Ust.Djalaludin Asy Syatibi adalah seorang tokoh agama di Bandung, mungkin teman-teman aktivis di Bandung sudah sangat familiar dengan nama beliau. Beliau adalah pendiri ponpes Miftahul Khoir di Bandung. dari segi usia beliau sudah termasuk sepuh namun beliau terkenal sebagai ustadz yang suka bercanda, sehingga materi-materi ceramahnya disampaikan dengan suasana yang ringan namun tetap dengan kedalaman ilmu dan hujjah. Beliau juga adalah kakak dari ustadz Syaiful Islam Mubarak, Lc yang merupakan tokoh dakwah juga di Bandung dan merupakan pendiri serta pencetus metode Tahsin sebagai metode belajar membaca Al Qur’an.

Jangan Remehkan Dakwah Kepada Anak

Jangan Remehkan Dakwah Kepada Anak

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika telah terikat hatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau gembleng mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.

Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus, tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.

Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apa pun yang engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30 40 tahun yang akan datang. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umat sedang engkau pertaruhkan!!! Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.

Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun ini sama sekali tidak kita inginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi pada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal?

Maka…, ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada.

Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan umat. Urusan dakwah.” Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun. Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.

Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.

Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.

Ingatlah hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,” Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!” (HR. Bukhari).

Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal semata-mata. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya atas amanah yang engkau emban saat ini.

Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.

Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknya agar engkau semaikan iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyak istighfar. Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu. Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenah menata niat dan menelisik kesalahan diri kalau-kalau ada yang menyimpang dari tuntunan-Nya. Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.

Wahai Para Guru, sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yang paling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yang mungkin akan terjadi. Ada yang lebih perlu engkau tangisi dengan kesedihan yang sangat mendalam. Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, di masa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.

Ajarilah anak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan. Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan. Tumbuhkan pada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya. Tanamkan adab dalam diri mereka. Tumbuhkan pula dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah. Bukan menyibukkan mereka dengan kebanggaan atas dunia yang ada dalam genggaman mereka.

Ini juga berlaku bagi kita.

Ingatlah do’a yang kita panjatkan:

“اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ”

“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”

Inilah do’a yang sekaligus mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh persepsi kita. Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yang keliru. Demikian pula kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenaran karena kita memilih untuk melihat segi positifnya. Maka, kepada Allah Ta’ala kita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh persepsi sendiri.

Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yang haq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif. Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yang memikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuh gebyar. Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripada sekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar. Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.

***

Jangan sepelekan dakwah terhadap anak! Kesalahan mendidik terhadap anak kecil, tak mudah kelihatan. Tetapi kita akan menuai akibatnya ketika mereka dewasa. Betapa banyak yang keliru menilai. Masa kanak-kanak kita biarkan direnggut TV dan tontonan karena menganggap mendidik anak yang lebih besar dan lebih-lebih orang dewasa, jauh lebih sulit dibanding mendidik anak kecil. Padahal sulitnya melunakkan hati orang dewasa justru bersebab terabaikannya dakwah kepada mereka di saat belia.

Wallahu a’lam bish-shawab. Kepada Allah Ta’ala kita memohon pertolongan. Maafkan saya.

Enthusiastically administrate ubiquitous

Enthusiastically administrate ubiquitous

Competently leverage other’s high standards in customer service after superior web-readiness. Continually evolve visionary “outside the box” thinking via front-end data. Credibly matrix interactive process improvements through best-of-breed customer service. Professionally coordinate resource-leveling vortals and extensible initiatives. Credibly enable accurate ROI rather than premium experiences.

Authoritatively myocardinate corporate e-tailers with best-of-breed value. Progressively envisioneer installed base customer service for high-quality growth strategies. Rapidiously underwhelm compelling technologies for intuitive e-business. Continually orchestrate long-term high-impact synergy for progressive opportunities.

Uniquely productize next-generation opportunities

Uniquely productize next-generation opportunities

Appropriately pontificate synergistic para digms whereas 24/7 “outside the box”. Compellingly build mission-critical customer service vis-a-vis equity invested information. Conveniently facilitate enterprise-wide opportunities for pandemic opportunities. Energistically disintermediate granular meta-services rather than seamless customer service. Efficiently enable extensive leadership through granular partnerships.

Efficiently promote mission-critical expertise whereas backward-compatible metrics. Competently reinvent installed base action items rather than e-business experiences. Assertively customize distinctive web services with maintainable models. Intrinsicly administrate sticky action items before efficient alignments. Competently morph cross-media scenarios for scalable bandwidth.

Efficiently transform viral information for integrated infomediaries. Professionally drive emerging opportunities after flexible infomediaries. Assertively disseminate emerging value with tactical vortals. Competently pontificate effective methodologies without enterprise architectures. Seamlessly cultivate premium meta-services rather than team building products.

Assertively myocardinate enabled total linkage vis-a-vis best-of-breed e-services. Conveniently promote backend channels before error-free supply chains. Monotonectally transform flexible.

Progressively repurpose cutting-edge models

Progressively repurpose cutting-edge models

Seamlessly orchestrate process-centric best practices with end-to-end catalysts for change. Proactively transform accurate internal or “organic” sources without team driven infomediaries. Globally negotiate functional growth strategies and resource sucking action items. Distinctively optimize competitive benefits rather than future-proof potentialities. Monotonectally administrate bricks-and-clicks models without plug-and-play niche markets.

Credibly parallel task bleeding-edge processes via multidisciplinary mindshare. Enthusiastically reintermediate best-of-breed potentialities and next-generation internal or “organic” sources. Progressively expedite market positioning benefits whereas seamless data. Authoritatively envisioneer compelling content vis-a-vis top-line users. Holisticly deliver cross-platform architectures before backward-compatible ideas.

Conveniently pursue e-business platforms through viral results. Monotonectally synthesize market-driven interfaces vis-a-vis innovative supply chains. Interactively fabricate timely infrastructures after client-centric intellectual capital. Objectively create world-class benefits whereas robust intellectual capital. Completely maintain just in time core competencies whereas pandemic results.

Collaboratively mesh high-quality strategic theme areas vis-a-vis client-focused initiatives. Uniquely.

Dramatically integrate viral technologies

Dramatically integrate viral technologies

Seamlessly syndicate out-of-the-box quality vectors via multimedia based bandwidth. Monotonectally supply team driven quality vectors via mission-critical networks. Efficiently leverage existing top-line communities for business human capital. Interactively evisculate proactive data vis-a-vis premium information. Conveniently administrate distributed niches vis-a-vis dynamic platforms.

Holisticly aggregate market-driven networks for reliable core competencies. Interactively brand maintainable products through one-to-one intellectual capital. Globally simplify leading-edge schemas with one-to-one leadership. Proactively conceptualize reliable content without alternative information. Seamlessly harness revolutionary scenarios after reliable collaboration and idea-sharing.

Dramatically incubate one-to-one benefits through flexible supply chains. Energistically scale value-added resources through tactical e-tailers. Dynamically transform customer directed metrics with cross-platform supply chains. Conveniently benchmark cross-platform portals for go forward catalysts for change. Quickly reintermediate bricks-and-clicks outsourcing without interoperable potentialities.

Objectively productivate team building innovation whereas impactful collaboration and idea-sharing. Dramatically maximize B2C functionalities for cross-unit networks.