SIT CORDOVA

Permainan Tradisional Salah Satu Sarana Melatih Anak Bersosialisasi

Permainan Tradisional Salah Satu Sarana Melatih Anak Bersosialisasi

Sosialisasi merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Dia tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Setiap manusia, siapa pun dia pasti membutuhkan bantuan orang lain dalam hidupnya. Baik hal yang besar ataupun kecil. Olehnya itu manusia dikenal juga sebagai makhluk sosial.

Proses sosialisasi pada akhirnya melahirkan dua tipe manusia yakni problem solver atau problem maker. Mereka yang suka berbagi, suka menolong dan peka terhadap sesama, saling memahami serta bertingkah laku positif dikategorikan dalam tipe problem solver. Tipe ini yang diharapkan tumbuh dan menghiasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengisi semua sendi-sendi kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Sebaliknya mereka yang mementingkan ego sendiri, pelit dengan barang miliknya, suka mempermasalahkan hal-hal kecil, sering terlibat tawuran dan tindakan negatif lainnya termasuk dalam tipe problem maker. Mereka cenderung menjadi generasi yang menodai nilai-nilai sosial agung yang telah diilhamkan dalam setiap jiwa manusia.

Pada dasarnya proses sosialisasi dimulai sejak usia manusia lahir di dunia. Setiap anak dikaruniai nilai-nilai sosial yang luhur dari sang pencipta. Tugas orang tua selanjutnya adalah mempertahankan, merawat, memupuk, dan mengembangkan nilai-nilai sosial tersebut agar jangkauannya lebih luas. Walaupun juga, nurani menjadi hal yang sangat besar pengaruhnya pada proses ini. Posisi orang tua sangat penting dalam mengenalkan variabel-variabel yang akan mempengaruhi proses sosialisasi ini. Termasuk cara bijak dalam menyikapi perbedaan dalam proses bersosialisasi. Baik perbedaan selera, latar belakang pengalaman ataupun cara pandang terhadap suatu masalah.

Usia anak pra sekolah (golden age) merupakan masa kerentanan anak untuk melatih dirinya menjadi makhluk sosial yang problem solver. Pada usia ini membutuhkan usaha keras orang tua untuk melatih dan mengembangkan nilai-nilai sosial alamiah anak. Sebab, ketika nilai-nilai sosial tersebut tidak diasah dan dilatih maka akan menjadi terkebiri. Sehingga dia akan tumbuh menjadi generasi yang kurang peka dan egois dalam kehidupan sosialnya.

Dalam masa kerentanan tersebut, harusnya seorang ayah ataupun ibu sangat selektif dalam mendekatkan anak dengan objek-objek yang terkait dengan proses pengembangan jiwa sosialnya. Termasuk dalam menentukan permainan dan tontonan apa yang layak dilakoni oleh sang anak. Juga dalam menasihati dan menjelaskan ketidaktahuan anak yang muncul dalam rasa penasaran nya. Selain itu orang tua juga harus peka terhadap dinamika yang muncul di masyarakat berkaitan dengan proses anak dalam belajar bersosialisasi. Tindakan proteksi yang berlebihan akan mempengaruhi proses perkembangan sosialisasi anak.

Ketika orang tua menghindarkan anaknya untuk bergaul dengan anak lain yang status sosialnya berada di bawahnya, maka akan membuat anak tumbuh dan berkembang dengan perasaan kurang peduli terhadap sesamanya. Sang anak akan mengambil kesimpulan bahwa, “saya tidak boleh bergaul dengan anak orang miskin, karena ibu melarang ku”. Sehingga akan tertanam di dalam pikirannya bahwa dia hanya boleh bergaul dengan teman yang selevel dengan dirinya. Akhirnya dia akan cenderung tumbuh sebagai pribadi yang sombong dan pelit dalam berbagi.

Ketika seorang anak tengah bermain bersama anak lainnya lalu dia menangis karena salah satu anak mengganggunya, maka sebaiknya orang tua menahan diri untuk melakukan pembelaan terhadap anaknya. kecuali anak lainnya melibatkan orang tua dalam menyelesaikan masalah tersebut. Sebaiknya orang tua menahan diri dan membiarkan anak tersebut memecahkan sendiri masalahnya sampai mereka mencapai kata damai bersama anak-anak lainnya. Mereka sesungguhnya sudah memiliki modal awal berupa kepekaan sosial alamiah yang telah diilhamkan oleh sang pencipta dalam dirinya. Karena tidak jarang kita menemukan anak-anak yang saling bergaduh, namun setelah itu mereka akan bermain dan jalan bersama lagi. Bahkan persahabatan mereka bertambah erat setelah hubungan diantara keduanya mereka perbaiki. Sedangkan keterlibatan dan intervensi orang tua dalam menyelesaikan masalah sosial anak hanya akan membuat mereka manja, egois dan bersifat pengecut.

Hari ini seiring perkembangan dunia digital permasalahan anak menjadi sangat kompleks. Sebab perkembangan dunia digital menambah variabel baru dalam mempengaruhi proses sosialisasi anak. Yang paling dekat dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari saat ini adalah lain tontonan dan games digital ataupun online yang sering dimainkan. Dua hal ini sangat akrab dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Sayangnya kemunculan nya tidak terlalu ditanggapi serius oleh para orang tua. Bahkan tidak jarang mereka ikut mendukungnya. Mereka merasa biasa-biasa saja ketika sang anak memperagakan beberapa adegan dan penampilan dari apa yang mereka tonton. Salah satu adegan yang santer saat ini adalah memperagakan aksi-aksi brutal dalam sinetron anak jalanan. Bahkan tidak jarang mereka saling beradu fisik dengan sesamanya dan membagi diri dalam geng-geng yang ada di sinetron tersebut. Sampai ada yang bercita-cita untuk menjadi anggota geng motor.

Sedangkan dari sisi games digital ataupun online, salah satu dampaknya adalah membatasi anak untuk belajar bersosialisasi dengan anak–anak sebayanya. Waktu mereka banyak tersita untuk games digital ataupun online yang cenderung membuat seseorang untuk cenderung mementingkan diri sendiri. Sebab aktivitasnya pada ruang–ruang sempit lagi terbatas interaksi nya. Akhirnya, tidak ada lagi pembiasaan bekerjasama dengan anak-anak lainnya untuk saling memahami satu sama lainnya. Permainan-permainan tradisional yang telah turun-temurun diwariskan dari generasi ke generasi telah tereduksi oleh games-games online. Kalau dulu ada permainan bentengan, engklek, kucing dan tikus, kasti dan yang lainnya, maka saat ini sudah mulai tergantikan oleh Far cry, Mortal Kombat X, Alien Shooter, bahkan saat ini yang tengah populer adalah game Pokemon Go. Padahal permainan tradisional sangat syarat akan nilai-nilai sosial dan pembiasaan nya.

Permainan tradisional selain sebagai alat untuk melatih anak dalam bersosialisasi, juga merupakan salah satu kekayaan budaya kita. Para orang tua terdahulu telah membuktikan akan sikap sosial yang dibangun lewat permainan-permainan sederhana ini. Kekerabatan antar tetangga yang dibangun lewat permainan tradisional, begitu erat. Selain itu dari segi ekonomi, permainan tradisional juga tidak membutuhkan biaya besar. Bahkan ada yang sama sekali tidak membutuhkan biaya. Karena bahannya bisa didapatkan bebas di alam. Jadi teringat masa-masa saat diajak teman-teman untuk mencoret-coret tanah karena hendak bermain engklek.

Sehingga seperti apa generasi bangsa ke depannya sangat ditentukan oleh pembiasaan hari ini. Apa yang ditontonnya, permainan apa yang dimainkannya, kepada siapa dia bergaul, dan pendekatan apa yang diberikan orang tua kepada anaknya sangat mempengaruhi masa depannya. Apakah nantinya ia akan menjadi seorang problem solver ataukah problem maker.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/07/26/81779/permainan-tradisional-salah-satu-sarana-melatih-anak-bersosialisasi

Kuncinya Pada Guru

Kuncinya Pada Guru

Apakah yang dapat kita harapkan dari guru-guru yang datang ke kelas hanya untuk menerangkan mata pelajaran? Apakah yang dapat kita minta dari para guru yang datang ke kelas hanya berbekal pengetahuan sederhana? Apakah yang dapat kita jaminkan atas anak-anak kita jika guru hanya peduli jam mengajar? Sementara tentang murid-muridnya, ia nyaris mengenali kecuali sekadar nama, wajah, dan suaranya saja.

Sungguh, kunci keberhasilan guru terutama terletak pada kompetensi sebagai pengajar, baik kompetensi mengajar maupun kompetensi dalam bidang studi yang ia ajarkan. Tapi sungguh, bukan itu yang paling pokok. Ada yang lebih mendasar lagi, yakni adakah kerisauan besar dalam dirinya yang ia hayati sepenuh hati dan ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Ia risau atas keadaan anak-anak di zaman ini. Ia menginginkan kebaikan yang besar pada diri muridnya. Dan ia menghabiskan waktunya dengan memberi perhatian, berjuang dengan sungguh-sungguh dan belajar secara gigih agar dapat mengantarkan anak didiknya menjadi manusia-manusia terbaik sesuai apa yang ia yakini sebagai kualitas ideal manusia.

Tanpa obsesi yang sangat tinggi untuk mendidik para murid menjadi manusia ideal, maka kegiatan mengajar hanya sekadar rutinitas saja. Begitu pula sekadar mampu merumuskan cita-cita secara tertulis, tapi tidak memiliki ikatan emosi dengan cita-cita tersebut, sulit baginya untuk meluangkan waktu bagi murid-muridnya sekaligus melapangkan telinga untuk mendengarkan penuturan murid dengan sepenuh jiwa. Mengajar hanya sekadar kegiatan fisik saja. Ia tidak membekas pada diri guru, tidak pula pada diri murid.

Jika materi yang mudah diingat saja tak membekas, apalagi dengan adab yang memerlukan kesabaran, dorongan, dukungan, dan pendampingan dalam membentuknya. Maka, kunci sangat penting memulai ta’dib (proses pendidikan adab) adalah guru. Adakah para guru yang melakukan ta’dib memiliki kecintaan terhadap murid-muridnya? Adakah para guru amat mengingini bagusnya akhlak anak didik? Bukan agar mudah menangani mereka, tetapi karena mengingini keselamatan anak didik di Yaumil-Qiyamah. Tampaknya tipis perbedaannya, tetapi jauh sekali akibatnya. Merisaukan akhlak anak didik karena mengingini keselamatan mereka di akhirat mendorong kita lebih sabar menghadapi kesulitan. Sementara merisaukan akhlak hanya karena mengingini penanganan anak jadi lebih mudah, membuat kita mudah berpuas diri. Mencukupkan diri dengan yang tampak dan mudah abai terhadap apa yang kurang.

Berkenaan dengan keprihatinan yang amat dalam ini, teringatlah saya dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah [9]: 128).

Sangat mengingini keimanan dan keselamatan. Inilah perkara penting yang harus dimiliki oleh seorang guru yang benar-benar berkeinginan membangun adab pada diri murid-muridnya. Ia bersungguh-sungguh mendidik, memiliki belas-kasih lagi penyayang. Kecintaan itu memang ada di dalam hati. Begitu pula besarnya keinginan untuk membaguskan murid-murid. Tapi ia amat berpengaruh pada kata yang kita ucapkan, adakah ia menjadi perkataan yang membekas ataukah sekadar lewat saja.

Selebihnya, seorang guru perlu memperhatikan adab-adab mengajar. Semoga Allah Ta’ala mudahkan upaya membangun adab pada diri murid.

Lalu, apa saja yang penting untuk diperhatikan:

Tulus Mengajar
Bekal penting yang harus dimiliki oleh setiap guru adalah ketulusan mengajar. Tidak berharga suatu amal tanpa keikhlasan. Boleh jadi seorang guru memang bekerja pada sebuah lembaga pendidikan. Tetapi di atas itu semua, ia adalah orang yang sangat berpengaruh dalam menempa jiwa anak didik. Maka lebih dari sekadar tugas mengajar, ia harus memiliki ketulusan yang amat dalam sehingga ringan hatinya menyambut kehadiran dan keingintahuan anak didiknya.

Sama pentingnya dengan ketulusan adalah bagusnya penyambutan terhadap anak didik sehingga mereka merasa dicintai oleh gurunya atau pengasuhnya di asrama. Inilah yang akan melahirkan rasa hormat pada diri anak didik terhadap guru. Ini pula yang menjadikan anak didik lebih mudah menerima nasehat dan ilmu dari guru.
Tentang menyambut penuntut ilmu, teringatlah saya pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani dari Shafwan bin ‘Asal Al-Muradi. Ia berkata, ”Saya mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam dan beliau di masjid bersandar dengan memakai burdah merah. Saya berkata kepada beliau, ‘Ya Rasul Allah, saya datang untuk menuntut ilmu.”

Beliau bersabda, “Selamat datang penuntut ilmu! Sesungguhnya penuntut ilmu dinaungi oleh para malaikat dengan sayapnya, kemudian mereka saling menumpuk hingga langit dunia, karena kecintaan mereka terhadap apa yang dia pelajari.” (Riwayat Ath-Thabrani).

Ketulusan mengajar itu juga ditampakkan dengan sikap saat bicara, ditampakkan juga saat mendengar murid berbicara. Bukankah kita ingat bagaimana Rasulullah mencondongkan badan ketika mendengarkan lawan bicara?

Tawadhu’
Salah satu kunci sukses seorang murid adalah hormat kepada guru. Dan rasa hormat kepada guru ini akan tertancap lebih kuat dalam diri murid jika ia memiliki seorang guru yang tawadhu’, guru yang rendah hati. Bukan rendah diri. Bukan pula yang gila hormat dan selalu ingin didengar. Faktor yang sangat menentukan keberhasilan murid memang kesediaan dan kesungguhan mendengarkan ucapan gurunya. Tetapi pada saat yang sama, guru juga perlu menjadikan dirinya sebagai sosok yang pantas untuk senantiasa didengar dan dipatuhi oleh muridnya.

Mari kita ingat sejenak perkataan Anas bin Malik tentang pribadi Rasulullah. Ia berkata, “Tidak ada orang yang paling dicintai oleh para Sahabat melebihi Rasulullah. Walau begitu, ketika melihat Rasulullah mereka tidak berdiri karena mengetahui bahwa Rasulullah tidak menyukai hal itu.” (Riwayat Bukhari, Ahmad, At-Tirmidzi & Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi).

Hadis ini memberi pelajaran kepada kita tentang sosok guru paling sempurna, Rasulullah. Kecintaan para muridnya –para Sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in– tak diragukan lagi. Tetapi kecintaan yang besar itu tidak menyebabkan mereka berdiri menghormat. Ini merupakan salah satu saja dari sekian banyak pertanda tentang kerendah-hatian beliau sehingga justru menjadikan beliau makin dicintai.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang suka untuk disambut dengan cara berdiri, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di api neraka.” (Riwayat Abu Dawud).

Mengenali Murid
Hal lain yang perlu dimiliki guru adalah kesediaan dan keinginan untuk mengenali pribadi muridnya dengan baik. Bukan hanya tahu nama dan wajah. Jangankan berbicara dalam konteks pendidikan adab, lebih khusus lagi pendidikan Islam, bicara pendidikan secara umum pun pengenalan yang baik terhadap murid memegang peranan penting. Banyak masalah yang berkembang di kelas maupun asrama karena guru tidak memiliki pengenalan yang baik terhadap murid, sehingga tidak mampu membaca apa yang sedang menjadi keresahan muridnya. Kadang guru bahkan seperti tak peduli dengan keadaan murid.

Pengenalan yang baik terhadap murid memudahkan guru bertindak secara lebih tepat. Selain itu, juga meringankan hati mereka untuk lebih toleran terhadap murid. SUARA HIDYATULLAH MEI 2012